Thursday, August 28, 2008

Adakah Keselamatan di Luar Gereja?

oleh: Frater Georgius Paulus, CSE


Pernah suatu ketika, seorang pemuda dari suatu Gereja Kristen non-Katolik menyatakan keberatannya akan kepercayaan gerejanya sendiri yang menyatakan bahwa hanya orang Kristenlah yang akan diselamatkan, “Lalu ke mana perginya semua orang yang non-Kristen?” Ini merupakan pertanyaan besar dari abad ke abad. Apakah Allah mengaruniakan keselamatan hanya kepada orang Kristen saja?

Ini juga yang sebenarnya merupakan masalah rumit yang dihadapi Gereja sepanjang sejarah. Masalah ini antara lain menimbulkan kesulitan Gereja dalam menyampaikan Kabar Gembira, khususnya di dunia Timur yang penuh dengan spiritualitas-spiritualitas yang sangat mendalam dan mengakar. Suatu agama atau kepercayaan yang berani membuat pernyataan bahwa di luar apa yang mereka ajarkan tidak ada keselamatan akan segera dicap sombong dan gila. Cobalah menempatkan diri Anda saat ini dalam kalangan penganut agama asli di salah satu negara Asia (ini pasti tidak akan terlalu sulit bagi Anda), lalu suatu saat Anda pergi ke acara kebaktian agama 'baru' dan mendengarkan seorang penginjil yang dengan lantang mengatakan di atas mimbar bahwa semua orang yang tidak mau menerima ajarannya akan masuk ke dalam neraka! Apa yang akan Anda rasakan? Apa pikiran Anda tentang Allah agama 'baru' itu saat itu? Inilah Allah yang tidak adil dan kejam. Bagaimana mungkin para pendahulu Anda yang hidup sungguh-sungguh saleh dan suci menurut ajaran kepercayaan Anda tiba-tiba dicampakkan ke dalam api neraka? Bagaimana mungkin orang-orang yang Anda kenal, yang hidup dengan tatanan moral kebajikan yang begitu tinggi, harus masuk ke dalam kebinasaan kekal semata-mata hanya karena mereka tidak pernah mendengarkan ajaran agama 'baru' itu? Sungguh tidak masuk akal!

Karena masalah ini cukup rumit dan sepanjang sejarah telah banyak dipertentangkan, saya mengajak Anda untuk secara bertahap melihat permasalahan ini. Dan juga sebelum Anda membaca lebih lanjut, saya mohon dengan sangat kepada Anda untuk tidak membaca uraian saya sepotong-sepotong, melainkan membacanya secara keseluruhan. Keterbatasan saya telah membuat uraian berikut tidak jelas jika dibaca sebagian saja. Oleh karena itu, jika Anda tidak yakin dapat menyelesaikan artikel ini, baik secara langsung maupun bertahap, saya mohon dengan hormat untuk tidak meneruskan sebab dapat menimbulkan kesalahpahaman yang tidak perlu.


ARTI KESELAMATAN

Pertama-tama kita perlu mengerti apa arti keselamatan menurut ajaran Kristen. Allah mengasihi manusia sebab Ia telah menciptakan manusia menurut gambar dan rupa-Nya sendiri. Akan tetapi, karena kesombongan dan ketidaktaatannya, manusia jatuh ke dalam dosa dan akibatnya manusia terpisah dari Allah. Allah sendiri tidak pernah berhenti mengasihi manusia sebab Ia tidak dapat mengingkari Diri-Nya Sendiri yang adalah kasih. Ia tidak menghendaki kebinasaan manusia. Sehingga pada kepenuhan waktu Ia mengutus Putera-Nya yang tunggal, Yesus Kristus, turun ke dunia untuk menebus dosa seluruh umat manusia, dari manusia pertama sampai manusia terakhir. Dengan inkarnasi, penderitaan, wafat, dan kebangkitan-Nya, Yesus telah memulihkan kembali hubungan manusia dengan Allah. Atas jasa Yesus Kristus, manusia dapat kembali menikmati hidup bersatu dengan Allah dalam keabadian. Inilah arti keselamatan, ditebus dari keadaan dosa kepada kehidupan dalam kebahagiaan abadi di surga.

Akan tetapi, di balik semua karya keselamatan Allah ini, ada sebuah misteri besar yang hanya dapat dijawab oleh Allah sendiri, yakni: misteri kehendak bebas manusia. Walaupun mahakuasa, Allah seolah-olah membatasi diri-Nya sendiri dengan membiarkan manusia mengambil keputusannya sendiri secara bebas, menerima atau tidak menerima, percaya atau tidak percaya akan wahyu-Nya, dalam hal ini wahyu-Nya yang terbesar, Putera-Nya sendiri: Yesus Kristus. Apakah semua manusia bisa diselamatkan? Ya, jasa Yesus cukup untuk menebus semuanya. Lagipula, Allah sejak semula menghendaki agar semua manusia diselamatkan (bdk. 1 Tim 2:3-6). Akan tetapi, apakah semua manusia mau menerima keselamatan ini? Dengan sedih kita harus mendapati kenyataan bahwa justru dari antara umat manusia sendiri ada yang menolak keselamatan. Mengapa? Kita tidak tahu sebab, sekali lagi, ini adalah misteri kehendak bebas manusia. “Terang telah datang ke dalam dunia, tetapi manusia lebih menyukai kegelapan dari pada terang ... Barangsiapa percaya kepada Anak, ia beroleh hidup yang kekal, tetapi barangsiapa tidak taat kepada Anak, ia tidak akan melihat hidup, melainkan murka Allah tetap ada di atasnya ... dan mereka yang telah berbuat baik akan keluar dan bangkit untuk hidup yang kekal, tetapi mereka yang telah berbuat jahat akan bangkit untuk dihukum.” (Yoh 3:19.36; 5:29).

Tidak semua manusia mencapai keselamatan dan bagi mereka yang tidak berhasil mencapainya telah tersedia hukuman. Apakah hukumannya? Kebinasaan kekal atau yang biasa kita sebut dengan istilah neraka.


KESELAMATAN, MILIK SIAPA?

Yesus bersabda: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” (Yoh 14:6). Dan ini pulalah yang menjadi cetusan keyakinan para pengikut-Nya, “Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan.” (Kis 4: 12). Apakah ini berarti bahwa hanya orang Kristen - yang dari namanya berarri pengikut Kristus - saja yang berhak akan keselamatan atau kehidupan kekal?

Jika kita ingin menafsirkan arti kata-kata Yesus, seperti yang harus dilakukan setiap kali kita ingin menafsirkan kata-kata dalam Kitab Suci, kita harus melihat konteks keseluruhan lnjil. Yesus datang untuk semua orang. Ia turun ke dunia bukan hanya sebagai Anak Daud, tetapi juga sebagai Anak Manusia, Anak Adam. Jika hanya para pengikut Kristus, yang baru muncul setelah Yesus, saja yang diselamatkan, bagaimana nasib Adam, Nuh, Abraham, Ishak, Yakub, Musa, Daud, Elia, dan semua orang yang kita kenal sebagai orang-orang kudus dalam Perjanjian Lama? Penebusan Kristus melingkupi seluruh dunia dan seluruh masa: dulu, sekarang, dan masa yang akan datang. “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sebelum Abraham jadi, Aku telah ada.” (Yoh 8:58). “Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia ini dijadikan.” (Ef 1:4a). Kerahiman Allah tidak mengenal diskriminasi. Semua manusia adalah ciptaan-Nya, menurut gambar dan rupa-Nya. Inilah nilai universal karya penebusan Kristus. Apabila Yesus menebus Adam, Nuh, Abraham, dan semua orang kudus Perjanjian Lama, yang belum pernah mendengar tentang Dia, tentu rahmat penebusan-Nya ini akan menjangkau pula mereka, yang walaupun hidup setelah Dia, tidak pernah mendengar Kabar Gembira tentang Dia bukan karena kesalahan mereka sendiri.

Ada dua aspek penting dalam hal ini. Yang pertama, mereka bisa diselamatkan, tetapi tetap atas jasa Yesus Kristus dan melalui Dia-lah mereka akan mencapainya. Mereka yang bukan karena kesalahan mereka sendiri tidak pernah mendengar kabar akan Yesus Kristus, pada akhir zaman akan diadili oleh satu hakim yang sama, Yesus Kristus. Kedua, mereka akan diadili menurut ukuran kerahiman Allah berdasarkan hati nurani dan kebebasan kehendak masing-masing pribadi. Allah menciptakan manusia untuk Diri-Nya Sendiri. Oleh sebab itulah - seperti yang dikatakan oleh Blaise Pascal - di dalam diri manusia ada suatu kekosongan yang hanya dapat dipenuhi oleh Allah. Santo Agustinus mengerti akan hal ini saat ia berdoa: “Engkau menciptakan kami untuk-Mu, dan jiwa kami tidak akan tenang sebelum beristirahat di dalam Engkau, ya Tuhan.”

Para kudus Perjanjian Lama, sekalipun belum pernah bertemu dengan Yesus secara fisik, sebenarnya telah mengenal Dia di dalam kekekalan sebagai jalan menuju kehidupan. Wahyu-wahyu yang mereka terima, ditanggapi mereka dengan sungguh-sungguh sehingga mereka juga oleh Yesus Kristus ditentukan menjadi anak-anak Allah di dalam kasih-Nya (bdk. Ef 1:5). Demikian juga misalnya: suku-suku terpencil di pedalaman Irian yang belum pernah menerima pewartaan Kabar Gembira secara langsung, juga menerima rahmat penebusan Kristus dan akan diselamatkan jika mereka mengikuti hati nurani mereka untuk mengabdi Allah yang esa dan melakukan kehendak-Nya. Sebagaimana diajarkan secara jelas oleh Gereja melalui Konstitusi Dogmatik tentang Gereja, Konsili Vatikan II, “Mereka dapat mencapai keselamatan jika tanpa kesalahan dari pihak mereka sendiri tidak mengenal Kabar Gembira Kristus atau Gereja-Nya, namun secara tulus mencari Allah dan, digerakkan oleh rahmat, berjuang dalam upaya-upaya mereka untuk melaksanakan kehendak-Nya sebagaimana yang dimengerti mereka melalui suara hati nurani.” (No.16). Manusia tidak akan dapat mengingkari kodratnya yang utama dan pertama-tama sebab ia telah dikaruniai akal budi dan hati nurani untuk mengerti. Dan “karena apa yang dapat mereka ketahui tentang Allah nyata bagi mereka, sebab Allah telah menyatakannya kepada mereka. Sebab apa yang tidak nampak dari pada-Nya, yaitu kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya, dapat nampak kepada pikiran dari karya-Nya sejak dunia ini diciptakan, sehingga mereka tidak dapat berdalih. Sebab sekalipun mereka mengenal Allah, mereka tidak memuliakan Dia sebagai Allah atau mengucap syukur kepada-Nya. Sebaliknya pikiran mereka menjadi sia-sia dan hati mereka yang bodoh menjadi gelap.” (Rm.1:19-21). Pada waktu penghakiman terakhir mereka yang hidup dengan hati nurani yang murni dan melaksanakan kehendak Allah atas diri mereka akan mengerti siapa yang telah menebus mereka, yakni Yesus Kristus, sedangkan bagi mereka yang hidup dalam kegelapan dan mengingkari hati nuraninya, Kristus akan menjadi hakim yang menjatuhkan hukuman sekali dan untuk selama-lamanya, yakni kebinasaan yang kekal. Saat itu mereka tidak akan mempunyai alasan untuk berdalih lagi.


GEREJA DAN KESELAMATAN

Di luar Kristus tidak ada keselamatan. Semua manusia, entah Kristen ataupun non-Kristen hanya dapat mencapai Allah melalui dan atas jasa Yesus Kristus. Lalu apa fungsi Gereja dalam hal ini? Gereja sebagai Tubuh Kristus adalah realisasi Kerajaan Allah di dunia ini, bahtera yang mengangkut semua orang pilihan Allah kepada keselamatan. Oleh karena nilai esensialnya ini, Gereja tidak dapat menolerir adanya ajaran bahwa ada keselamatan di luar satu Gereja yang didirikan oleh Kristus sendiri. Seorang tokoh terkemuka dalam Gereja awali, Santo Siprianus mengungkapkan keyakinan Gereja ini dengan tegas dalam suratnya: “Bila Allah adalah Bapamu, maka Gereja adalah ibumu.” “Tidak seorang pun dapat diselamatkan kecuali di dalam Gereja.” “Di luar Gereja tidak ada keselamatan.” Dalam konteks Gereja awali, Gereja berarti hanya satu Gereja, yakni Gereja Kristus, Gereja Katolik. Santo Agustinus kemudian menambahkan: “Jika engkau tidak berada di dalam tubuh, engkau tidak berada di bawah kepala. Jika engkau memisahkan diri dari tubuh-Nya, itu tidak akan membuat Sang Kepala tubuh memisahkan diri dari tubuh-Nya. 'Dalam kesia-siaanlah engkau memuliakan Aku', Sang Kepala menangis untukmu dari Surga, 'Sia-sialah engkau memuliakan Aku'. Itu seperti jika seseorang ingin mencium wajahmu dan sekaligus menginjak kakimu. Dengan sepatunya yang berpaku ia menghancurkan kakimu saat ia mencoba memegang kepalamu dan menciumnya; tidakkah engkau akan menghalangi usaha penghormatan itu dan berseru: 'Hey, apa yang kau lakukan? Engkau menyakitiku!'” Jadi, jelas tidak mungkin bagi seseorang untuk tetap tinggal di bawah Sang Kepala, yaitu Kristus, dengan terus-menerus menghujat tubuh-Nya, yaitu Gereja. Keyakinan Gereja ini diteguhkan lagi dalam Konsili Lateran IV (tahun 1215): “Barangsiapa yang ingin diselamatkan, di atas segalanya ia perlu memegang iman Katolik. Dan jika seseorang tidak berpegang dalam iman ini secara teguh dan utuh, tak dapat diragukan lagi bahwa ia akan binasa.” Dengan kata lain, sebagaimana tidak ada keselamatan di luar Kristus, tidak ada pula keselamatan di luar Gereja. Extra ecclesiam nulla salus!

Jika demikian bukankah ini bertentangan dengan pengertian di awal tulisan ini bahwa orang kafir pun yang jelas-jelas bukan anggota Gereja bisa diselamatkan asalkan ia hidup sesuai dengan hati nuraninya yang murni dengan menyembah satu Allah yang benar? Dalam hal ini, kita harus mengerti sebagaimana Gereja telah mengerti saat ia (Gereja) dengan berani dan tegas mengatakan bahwa di luar Gereja tidak ada keselamatan. Kita harus melihat doktrin ini dalam kacamata iman Gereja secara keseluruhan dan juga faktor sejarah yang melandasinya.

Pertama-tama, sangatlah penting untuk mengerti bahwa doktrin di luar Gereja tidak ada keselamatan ini tidak ditujukan bagi orang-perorangan atau pribadi-pribadi non-Katolik, melainkan bagi komunitas-komunitas atau golongan-golongan non-Katolik. Jika ini benar bahwa hanya ada satu Tubuh Kristus, pastilah juga hanya ada satu Gereja. Setiap kelompok yang memisahkan diri dari Gereja atau yang sejak semula memang sudah tidak ada di dalam Gereja tidak mungkin dapat menjadi perantara kepada keselamatan. Hanya ada satu Gereja yang memiliki seluruh kepenuhan rahmat dan karenanya menjadi satu-satunya sarana untuk mencapai keselamatan di dunia ini.

Akan tetapi, dalam kenyataannya tidak ada satu pun kelompok-kelompok atau komunitas-komunitas non-Katolik yang sepenuhnya non-Katolik atau anti-Katolik. Dengan kata lain, nilai-nilai luhur yang membawa keselamatan, yang secara penuh terkandung dalam Gereja, secara tidak penuh juga ada di dalam mereka.


SAUDARA-SAUDARA YANG MEMISAHKAN DIRI

Kita lihat golongan pertama, yakni mereka - baik Gereja Orthodoks di Timur maupun Gereja Protestan di Barat - yang secara sadar mengambil langkah untuk memisahkan diri dari Gereja.

Pemisahan diri mereka dari Gereja tidak berarti penyangkalan akan seluruh iman dan rahmat dalam Gereja. Walaupun mereka menolak Gereja Katolik, saat pergi mereka membawa serta dan mempertahankan sejumlah besar keyakinan Gereja sebagai keyakinan mereka juga. Oleh karena itu, mereka, secara keseluruhan, tetap mewarisi kekayaan rahmat yang ada dalam Gereja, yang telah diturunkan oleh Kristus melalui para rasul sendiri, misalnya: Sakramen Pembaptisan, yang merupakan rahmat luar biasa yang disediakan Allah bagi penebusan dosa. Walaupun mereka menyangkal ke-Katolik-an mereka, dengan iman dan cara-cara penyembahan yang Katolik mereka tetap bisa memperoleh keselamatan. “Karena mereka ini, yang percaya kepada Kristus dan menerima pembaptisan dengan baik, berada dalam semacam persekutuan dengan Gereja Katolik, walaupun tidak sempurna.” (Dekrit Konsili Vatikan II tentang Ekumene, Unitatis Redintegratio, no. 3). Sehingga benarlah sabda Kristus: “Ada lagi pada-Ku domba-domba lain, yang bukan dari kandang ini.” (Yoh. 10:16) Di mana pun, apabila Injil Kristus sungguh-sungguh diberitakan dan pembaptisan dilakukan di dalam nama Bapa, Putera, dan Roh Kudus, rahmat Allah bekerja. Ketika Yohanes berkata kepada Yesus bahwa ia baru saja mencegah seorang yang bukan termasuk bilangan para murid Yesus mengusir setan dalam nama Yesus, Yesus menegurnya, “Jangan kamu cegah, sebab barangsiapa tidak melawan kamu, ia ada di pihak kamu.” (Luk. 9:50).

Masalah perpecahan memang sudah ada sejak awal Gereja. Hal ini secara khusus sangat dicela oleh Rasul Paulus (bdk. 1 Kor 1:10-17; 11:17-22). Perpecahan harus dikutuk (anathema). Namun mereka, yang sekarang ini lahir dari persekutuan-persekutuan Kristen yang memisahkan diri dari Gereja dan yang diresapi oleh iman kepada Kristus, tidak dapat dipersalahkan karena dosa perpecahan (Unitatis Redintegratio, no. 3). Perpecahan-perpecahan yang terjadi terkadang timbul dari kesalahan tokoh-tokoh kedua belah pihak. Namun, berbicara mengenai rahmat dan keselamatan, Gereja mempunyai keyakinan teguh bahwa hanya melalui Tubuh Kristus sajalah, corong keselamatan satu-satunya, seseorang dapat mencapai tujuan keabadian, yakni Kristus sendiri, seperti yang ditegaskan oleh salah seorang teolog terkemuka abad ini: “Walaupun mungkin bukan Gereja Katolik yang memberikan kepada mereka roti kehidupan dan rahmat, namun roti Katoliklah yang mereka santap. Dan saat mereka memakannya, mereka, tanpa menyadari ataupun menginginkan, diikutsertakan dalam substansi adikodrati Gereja. Walaupun secara lahiriah mereka terpisah dari Gereja, mereka tetap ada di dalam jiwa Gereja.” (Karl Adam, The Spirit of Catholicism, hal 179).


SAUDARA-SAUDARA LAIN DI LUAR KRISTEN

Kelompok yang kedua adalah mereka yang sejak semula memang tidak berada di dalam Gereja. Apakah para penganut agama non-Kristen bisa diselamatkan? Sebagaimana di dalam diri saudara-saudara Kristen kita yang lain, para penganut agama non-Kristen juga memiliki nilai-nilai luhur atau, menurut istilah Konsili Vatikan Il, berkas-berkas kebenaran yang mempunyai daya penyelamatan.

Paus Paulus VI dalam ensikliknya, yang membahas tentang perwartaan Injil, berjudul Evangelii Nunciandi, yang diterbitkan tidak lama setelah penutupan Konsili Vatikan II, memberikan angin segar bagi evangelisasi dengan mengesampingkan semua prasangka dan tuduhan yang menyakitkan bagi agama-agama non-Kristen. Paus menegaskan, “Gereja menghormati dan menghargai agama-agama non-Kristen sebab mereka merupakan ungkapan hidup dari jiwa kelompok besar umat manusia. Agama-agama ini mengandung gema usaha mencari Allah selama ribuan tahun...” Akan tetapi, untuk tidak membuat orang berpikiran bahwa Gereja menyamakan semua agama, beliau dengan cepat menambahkan bahwa usaha mereka itu merupakan, “...suatu usaha mencari yang tidak pernah lengkap, tapi kerap kali dilakukan dengan ketulusan yang besar dan kelurusan hati.” Dan yang paling penting adalah pernyataan beliau mengenai hubungan mereka dengan Allah, “Agama-agama tadi telah mengajar generasi-generasi umat manusia untuk berdoa.” (Evangelii Nunciandi, no. 53).

Santo Thomas Aquinas, berabad-abad sebelumnya juga telah memberikan pernyataan yang sangat jelas dan cerdas akan penyelenggaraan Allah, “Allah akan memelihara mereka yang tidak terjangkau oleh kabar akan Kristus, entah dengan mengirimkan malaikat-Nya kepada mereka ataupun melalui inspirasi batin.” (De Veritate, XIV, 11, ad 1). Ini luar biasa! Allah memperhatikan semua manusia dengan segala kebijaksanaan-Nya. Kita mengerti sekarang bagaimana manusia, meskipun tidak menerima wahyu Allah sejelas wahyu-Nya kepada bangsa Yahudi dan yang disempurnakan secara penuh dalam diri Putera-Nya, Yesus Kristus, ternyata secara samar-samar dapat menangkap wahyu Allah kepada mereka, entah itu melalui penampakan malaikat Allah ataupun inspirasi di dalam diri mereka yang terdalam! Allah sungguh-sungguh hadir juga dalam diri mereka, meskipun tidak sama dengan kehadiran-Nya dalam diri mereka yang telah dibaptis dalam air dan roh, tetapi Ia hadir secara hakekat dan ya, bahkan - dalam kualitas tertentu - secara rahmat. Gereja sejak semula mengajarkan bahwa rahmat Allah juga bekerja di luar Gereja yang kelihatan. Di sini kita bisa melihat perbedaan yang mendasar antara rumusan 'extra ecclesiam nulla salus' dengan rumusan 'extra ecclesiam nulla conceditur gracia' (di luar Gereja tidak ada rahmat).

Ini menjelaskan banyak hal, tetapi di pihak lain juga membangkitkan satu pertanyaan besar, “Jika hanya di dalam Gereja ada keselamatan, apakah nilai-nilai luhur yang memberikan keselamatan diberikan kepada mereka melalui Gereja? Jika demikian, apakah nilai-nilai luhur itu semata-mata milik Gereja yang 'dipinjamkan' kepada yang lain?”


UNIVERSALITAS DAN EKSKLUSIFITAS GEREJA

Kardinal Newman, seorang eks-pastor Protestan yang akhirnya menjadi Katolik dan yang kemudian bahkan terpilih menjadi salah seorang uskup Gereja Katolik, pernah mengatakan bahwa seandainya Gereja Katolik itu salah, kesalahannya itu pasti tidak kurang daripada kesalahan diabolik (kerasukan setan). Sebaliknya jika ia (Gereja Katolik) benar, pastilah ia didirikan dan diselenggarakan secara ilahi. Klaim Gereja akan dirinya sendiri memang sangat tinggi. Ia mengklaim dirinya tidak kurang daripada Tubuh Kristus sendiri, pemenuhan Kerajaan Allah di dunia, Gereja Kemanusiaan (Church of Humanity) yang memiliki kepenuhan nilai-nilai religius, institusi eksklusif tempat semua orang dapat memperoleh keselamatan. Ia tidak dapat mengakui bahwa orang dapat diselamatkan dengan menjadi anggota kelompok lain di luar Gereja primer, Gereja yang didirikan oleh Kristus sendiri.

Sesungguhnya kita harus mengerti bahwa Gereja, dalam hal ini, melihat semuanya di dalam terang universalitas dan keabadian, bukan semata-mata paham 'kemungkinan'. Memang, seperti telah diterangkan di atas, Gereja selalu menghargai kepercayaan dari kelompok lain bahkan mengakui bahwa banyak nilai-nilai yang terkandung di dalam kelompok-kelompok itu sungguh-sungguh mengandung unsur pewahyuan ilahi, tetapi yang - sekali lagi - tidak pernah lengkap. Dari sini Gereja melihat adanya bahaya yang sangat besar dari sistem-sistem religius ini. Gereja mengingatkan bahwa tanpa pengenalan akan Kristus mereka akan cenderung lebih mudah ditipu dan disesatkan oleh iblis, misalnya melalui: takhyul, kepercayaan kepada barang-barang keramat (jimat, pembawa keberuntungan, dan lain-lain), sihir, perdukunan, dan sebagainya.

Di atas, saya telah memakai gambaran bahtera untuk Gereja dan sekarang saya akan melanjutkan pemakaian gambaran itu. Kita semua harus mengarungi samudera yang amat luas untuk mencapai keselamatan dan satu-satunya sarana yang memungkinkan kita sampai kepada tujuan adalah bahtera Gereja. Di saat kapal-kapal baru yang lebih baru dan canggih silih berganti terlihat mendahului bahtera ini, ia tetap bergerak dengan lambat. Akan tetapi, dalam perjalanannya selanjutnya ia mendapati bahwa semua kapal yang pernah mendahuluinya ternyata tidak pernah berhasil mencapai tujuan mereka. Badai samudera telah menelan mereka semua. Di samping itu, ada padanya penumpang-penumpang, tentu saja terbagi dalam kelas-kelas yang berbeda. Ada di antara mereka yang memilih bernaung di dalamnya dengan aman dan terlindung. Ada pula yang memilih menahan dingin dan menanggung risiko tercebur ke dalam laut dengan menumpang di atas geladaknya. Bahkan ada yang memilih hanya bergantung pada sisi-sisi badannya tanpa tempat untuk menginjakkan kaki-kaki mereka. Semuanya adalah penumpang bahtera ini, tetapi siapa yang akan lebih mudah bertahan di dalam badai?

Memang paham universalitas Gereja ini sering disalahtafsirkan sebagai suatu bentuk fanatisme sempit (seperti yang saya lukiskan pada awal tulisan ini), namun saya mengajak Anda dan siapa pun yang membaca tulisan saya ini untuk benar-benar mempelajari dan mendalami ajaran-ajaran Gereja Katolik yang sejati (dokumen-dokumen Gereja dan ajaran-ajaran para Bapa Gereja). Setelah itu Anda bisa memutuskan sendiri, apakah ini kebenaran atau hanya semata-mata bidaah terbesar yang pernah ada.

sumber : “Vacare Deo” edisi Agustus / Tahun V / 2003; Media Pengajaran Komunitas Tritunggal Mahakudus; Pertapaan Shanti Bhuana

Siapa yang Akan Diselamatkan? Apa yang Diyakini Katolik mengenai Keselamatan

oleh: P. Thomas Richstatter, O.F.M. *


Sekitar tengah hari, terdengar suara ketukan di pintu. Kalian pergi melihat siapa yang datang dan kalian disapa dengan salam, “Hallo, saya Dorothy dan ini putera saya Jason. Kami telah diselamatkan oleh darah Kristus. Sudahkah Anda diselamatkan? Bolehkah kami masuk dan berbicara dengan Anda mengenai keselamatan?” Sampai pada point ini, banyak umat Katolik Roma merasa tidak nyaman dan bimbang akan apa yang harus dilakukan. Sementara kita ingin menjaga sopan santun dan menghormati maksud baik dan iman nyata si tamu, kita ragu untuk mengatakan, “Mari masuk!”

Ada beberapa alasan mengenai kebimbangan ini. Jajak pendapat Gallup menunjukkan bahwa kita orang-orang Katolik tampaknya lebih sedikit berbicara mengenai iman kita dibandingkan orang-orang Kristen lainnya. Di samping itu, orang-orang Katolik cenderung untuk menghormati pilihan orang lain dalam hal keyakinan - kita merasa tidak enak berusaha membawa orang-orang lain masuk ke dalam cara pikir kita.

Tetapi yang terlebih penting, mungkin kita sadar siapa tamu kita dan kita akan berbicara mengenai keselamatan dalam dua cara yang berbeda. Protestan dan Katolik cenderung mempergunakan metafora yang berbeda untuk keselamatan. Mudahnya, metafora adalah suatu cara “puitis” dalam menyampaikan makna. Dalam artikel ini kita akan melihat bahwa metafora kita - “kiasan kata” atau gambaran kita - akan Tuhan mewarnai pemahaman dasar kita akan siapa yang akan masuk ke surga atau ke neraka.


Metafora Tuhan sebagai Bendahara yang Adil

Metafora akuntansi begitu lazim bagi umat Katolik hingga kita bahkan tidak tahu bahwa gambaran itu ada. Kita melihat suatu hubungan antara perbuatan-perbuatan baik kita dan tempat kita di surga. Dalam arti tertentu, kita mendapatkan surga dengan melakukan perbuatan-perbuatan baik dan kita kehilangan tempat kita di surga dengan berdosa; mati dalam dosa berat mendatangkan ganjaran neraka: “Masing-masing akan menerima upahnya sesuai dengan pekerjaannya sendiri” (1 Korintus 3:8); “Upah dosa ialah maut” (Roma 6:23). Kita menggambarkan Tuhan sebagai seorang bendahara yang adil yang akan mengganjari kita sesuai dengan apa yang pantas bagi kita.

Saya teringat masa-masa ketika dikatakan kepada saya bahwa agama adalah bagaikan suatu polis asuransi. Kita membayar premi (perbuatan-perbuatan baik) dan pada akhirnya polis mendatangkan manfaat (surga). Dijelaskan kepada saya bahwa agama Katolik adalah agama yang paling baik sebab preminya paling tinggi (umat Katolik mempunyai paling banyak peraturan yang harus ditaati) dan sebab itu pada akhirnya keuntungannya akan lebih besar. Jika kita tidak membayar premi (perbuatan-perbuatan baik) atau bahkan terlebih parah, kita melakukan dosa berat, maka kita tak lagi layak akan surga dan diganjari siksa neraka. Bendahara Surgawi melihat semuanya - bahkan pikiran-pikiran kita yang paling rahasia. Si Bendahara adalah adil, jadi ketika kita meninggal dunia, kita akan mendapatkan apa yang pantas bagi kita.

Metafora akuntansi, tentu saja, biasanya tidak sejelas ini dalam pikiran kita. Walau demikian, orang-orang Katolik mungkin terkejut mengetahui bahwa tidak semua orang Kristen berpikiran seperti ini. Hanya separuh dari orang-orang Protestan yang beranggapan bahwa surga adalah ganjaran ilahi bagi mereka yang mengamalkan hidup baik, demikian jajak pendapat Gallup. Dari jejak pendapat diketahui juga bahwa dua kali lebih banyak orang Protestan daripada orang Katolik yang berpendapat bahwa satu-satunya pengharapan akan surga adalah melalui iman pribadi akan Yesus Kristus. Stereotip yang ditangkap jelas oleh jajak pendapat ini adalah bahwa Katolik percaya bahwa surga diperoleh dengan perbuatan-perbuatan baik, sementara Protestan percaya surga diperoleh dengan iman.

Tetapi, Katolik memiliki pemahaman yang lebih luas akan Tuhan dari sekedar metafora bendahara yang adil. Kita, juga orang-orang Kristen lainnya, paham bahwa rahmat adalah anugerah cuma-cuma. Gambaran akuntansi tidaklah cukup dapat menyampaikan ajaran iman kita ini.

Yesus Sendiri menunjukkan keterbatasan dari metafora akuntansi ini. Ingat perumpamaan tentang Pekerja-pekerja Kebun Anggur (Matius 20 :1-16), “Adapun hal Kerajaan Sorga sama seperti seorang tuan rumah yang pagi-pagi benar keluar mencari pekerja-pekerja untuk kebun anggurnya. Setelah ia sepakat dengan pekerja-pekerja itu mengenai upah sedinar sehari, ia menyuruh mereka ke kebun anggurnya.” Kita ingat bagaimana tuan rumah pergi lagi pukul sembilan pagi, tengah hari, pukul tiga, dan akhirnya pukul lima petang, dan setiap kali ia mempekerjakan lebih banyak pekerja-pekerja. Dan kita tahu akhir dari kisah tersebut, “Ketika hari malam tuan itu berkata kepada mandurnya: Panggillah pekerja-pekerja itu dan bayarkan upah mereka, mulai dengan mereka yang masuk terakhir hingga mereka yang masuk terdahulu. Maka datanglah mereka yang mulai bekerja kira-kira pukul lima dan mereka menerima masing-masing satu dinar. Kemudian datanglah mereka yang masuk terdahulu, sangkanya akan mendapat lebih banyak, tetapi merekapun menerima masing-masing satu dinar juga.”

Apabila kita memahami keselamatan semata-mata hanya dengan metafora Allah sebagai seorang bendahara yang adil, maka kita akan kecewa dengan tuan rumah itu. Kita mengerti mengapa pekerja-pekerja dalam perumpamaan itu bersungut-sungut terhadap tuan rumah; kita pun akan bersungut-sungut juga! (Dan banyak orang Katolik memang bersungut-sungut ketika mereka mendengar perumpamaan ini diwartakan.) Yesus mengingatkan kita dalam perumpamaan ini, dan di banyak tempat lain dalam Perjanjian Baru, bahwa metafora akuntansi tidaklah cukup untuk memahami keselamatan. Perbandingan akuntansi harus diimbangi dengan perbandingan orangtua.


Metafora Orangtua

“Tuhan adalah orangtua yang mengasihi” adalah kebenaran yang kita semua yakini, tetapi kita seringkali tidak menerapkan gambaran ini atas pertanyaan, “Siapakah yang akan diselamatkan?” Hal ini dapat memiskinkan gagasan kita akan agama, keselamatan dan Tuhan.

Mengapakah metafora orangtua tidak lebih ditekankan? Apakah karena kebanyakan dari kita dalam Gereja Katolik yang menulis dan mewartakan keselamatan bukanlah orangtua? Apakah karena budaya Amerika kita menekankan lebih pada nilai kerja dan uang daripada orangtua dan hubungan pribadi? Apapun alasannya, saya berpendapat bahwa akan sangat berguna memeriksa metafora orangtua dan melihat implikasinya pada pemahaman kita akan keselamatan.

Satu perbedaan utama antara “Tuhan adalah orangtua yang mengasihi” dan “Tuhan adalah bendahara yang adil” adalah bahwa dalam metafora orangtua, ganjaran tidak didasarkan pada hasil kerja. Orangtua mengasihi anak-anak mereka tidak berdasarkan hasil kerja atau prestasi anak. Orangtua mengasihi bayinya yang baru lahir, yang belum dapat melakukan apa-apa. Sementara anak bertumbuh, orangtua mengasihi anak-anak yang mendapatkan nilai C dan D di sekolah, dan orangtua mengasihi anak-anak yang mendapatkan nilai A dan B. Saya melihat para orangtua di Special Olympics yang sama bangga akan anak-anak mereka dengan para orangtua yang bersorak gembira karena putera dan puteri mereka bermain gemilang dalam kejuaraan bola basket sekolah.

Terkadang, seorang anak yang sakit atau bermasalah, mendapatkan bahkan lebih banyak kasih dan perhatian daripada anak-anak lain yang sehat dan berprestasi. Suatu hari di penjara negara, salah seorang narapidana mengatakan kepada saya, “Pater, saya sungguh tidak dapat mengerti mengapa ibu saya masih mengasihi saya. Ia jauh-jauh datang mendendarai mobilnya dari South Bend ke sini hanya untuk menengok saya setiap waktu kunjungan pada hari Minggu. Dan setelah perlakuan saya terhadap perempuan itu - saya mencuri ban-ban mobilnya dan menjualnya untuk membeli kokain; dan ia tak dapat pergi bekerja, dan terlibat masalah dengan bosnya dan akhirnya kehilangan pekerjaannya. Tetap saja ia datang jauh-jauh ke sini untuk mengunjungi saya!” Orangtua memang seperti itu. Bukan cara yang adil, bukan cara bendahara yang baik, melainkan demikianlah cara orangtua. Dan jika orangtua manusiawi kita mengasihi kita begitu rupa, betapa terlebih lagi Orangtua Surgawi kita!


Bagaimana Kita Belajar Mengenal Tuhan

Suatu kali, saya sedang merayakan Ekaristi bersama anak-anak kelas empat sekolah dasar dan saya ingin mengatakan sesuatu mengenai bagaimana kita belajar mengenal siapa Tuhan itu. Saya mengatakan kepada anak-anak bahwa jika mereka ingin mengenal Tuhan, maka hendaknya mereka memikirkan hal-hal yang baik, yang mengagumkan dan yang menakjubkan, yang kita lihat di sekeliling kita dan mengalikannya dengan seratus ribu juta milyar. Begitulah betapa baiknya, mengagumkannya dan menakjubkannya Tuhan itu.

Di antara hal-hal yang indah dan mengagumkan yang kita dapati di sekeliling kita itu, ada anugerah orangtua manusiawi kita. Yesus mempunyai orangtua yang luar biasa mengagumkan, Maria dan Yosef. Kalikanlah kebaikan mereka dengan seratus ribu juta milyar dan kita akan dapat membayangkan betapa Tuhan pastilah sungguh luar biasa mengagumkan! Ini mungkin salah satu alasan mengapa metafora “Tuhan adalah orangtua yang mengasihi” begitu menonjol dalam Perjanjian Baru. Yesus menyebut Allah sebagai Bapa lebih dari seratus kali dalam Injil.

Tidak semua anak-anak mendapatkan anugerah dua orangtua yang matang dan penuh kasih; dan terkadang sulit untuk memilah yang baik dari yang jahat sebelum mengalikannya. Tetapi, bahkan jika ibu bapa kita gagal sebagai orangtua, Tuhan tidak pernah gagal. Yesaya meyakinkan kita, “Dapatkah seorang perempuan melupakan bayinya, sehingga ia tidak menyayangi anak dari kandungannya? Sekalipun dia melupakannya, Aku tidak akan melupakan engkau” (Yesaya 49:15).

Dari kisah ke kisah dalam Kitab Suci diceritakan mengenai kasih Tuhan yang tak terbatas kepada kita. Saya merenungkan kisah anak yang hilang. Bapa dalam kisah tersebut mengasihi kedua anaknya, masing-masing dengan cara yang berbeda. Sesungguhnya bapa tersebut adalah bapa yang hilang juga. Siapakah gerangan yang akan memberikan setengah dari hartanya sebagai warisan sementara ia masih hidup, terutama jika ia tahu bahwa hartanya itu akan dihambur-hamburkan! Terlintas dalam benak saya bahwa bapa dalam kisah ini mengasihi anak-anaknya lebih dari yang sepatutnya dilakukan seorang bapa yang baik. Adakah Bapa kita yang di surga mengasihi kita bahkan terlebih lagi dari yang sepatutnya dilakukan seorang bapa yang baik?


Siapakah yang Akan Diselamatkan?

Tak seorang pun perlu memberitahukan kepada kita bahwa ada kejahatan di dunia. Tak seorang pun perlu memberitahukan kepada kita bahwa ada laki-laki dan perempuan yang melakukan hal-hal yang jahat. Metafora “Tuhan adalah bendahara yang adil” meyakinkan kita bahwa pada akhirnya mereka akan mendapatkan ganjarannya. (Meski demikian, terkadang, keyakinan kita agak terlalu membenarkan diri. Seringkali kita menghendaki orang-orang lain masuk neraka: Hitler, Stalin, dan terkadang tetangga sebelah!)

Tetapi, metafora “Tuhan adalah orangtua yang mengasihi”, menghantar kita pada pemahaman yang lain. Kasih orangtua dapat melampaui apa yang pantas bagi anak. Ganjaran diukur bukan dengan ukuran prestasi anak, melainkan dengan ukuran kasih orangtua. Betapa besarkah kasih Tuhan kepada kita? Betapa dahsyat? Adakah kasih Tuhan dibatasi oleh penilaian kita akan siapa-siapa yang dapat atau patut dikasihi Tuhan?

Siapakah yang masuk surga? Mempergunakan gambaran akuntansi, jawabnya mudah: mereka semua yang berlaku adil di dunia ini. Mempergunakan gambaran orangtua, jawabnya juga mudah: Tuhan menghendaki semua anak-anak-Nya, yakni mereka semua yang dikasihi Tuhan, masuk surga.

Ini bukan berarti bahwa perbuatan-perbuatan baik tidaklah penting, atau bahwa boleh-boleh saja berdosa, atau bahwa Tuhan tidak menghormati kehendak bebas kita. Melainkan, mengundang kita untuk melihat masalah dengan cara yang berbeda. Sebagai misal, mengubah alasan kita menghindari dosa dan melakukan perbuatan-perbuatan baik. Kita tidak melakukan perbuatan-perbuatan baik demi membeli surga dengan jasa-jasa kita sendiri, atau diberi jaminan ganjaran abadi oleh Bendahara Surgawi. (Kita tidak, misalnya, pergi ke Misa setiap hari Minggu agar kartu absensi kita ditandai sehingga ketika kita tiba di hadapan tahta pengadilan, akan jelaslah bahwa kita telah membayar kewajiban-kewajiban kita.)

“Tuhan adalah orangtua yang mengasihi” meyakinkan kita bahwa Tuhan mengasihi kita. Begitu menyadari bahwa kita dikasihi, adalah normal jika kita ingin membalas kasih itu - yakni mengasihi Tuhan yang terlebih dahulu mengasihi kita. Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan barangsiapa takut, ia tidak sempurna di dalam kasih (1 Yohanes 4:18-19). Kita mengasihi Tuhan karena Tuhan telah terlebih dulu mengasihi kita.

St Paulus mengingatkan kita bahwa sementara hukum Taurat tak berdaya, kasih mengatasi segalanya (lih Roma 8:3). Para orangtua tahu bahwa mengancam seorang anak dengan hukuman dapat mengubah perilaku anak untuk sementara waktu, tetapi cara terbaik untuk menghasilkan perubahan selamanya adalah dengan memeluk anak dalam kasih. Apabila kita dikasihi, kita dikuatkan untuk bertumbuh, untuk mengasihi, untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang murah hati. Yesus, si tukang kayu dari Nazaret, membenamkan diri dalam sungai Yordan saat pembaptisan-Nya, “Lalu terdengarlah suara dari sorga yang mengatakan: `Inilah AnakKu yang Ku-kasihi, kepada-Nya-lah Aku berkenan.'” (Matius 3:17). Yesus keluar dari air, dikuatkan dengan kasih itu, untuk menyelamatkan dunia.


Pentingnya Dikasihi

Beberapa teman dari Kristen Baptis mengatakan kepada saya bahwa doa pertama yang mereka ingat mereka pelajari adalah madah yang berbunyi, “Yesus mengasihi aku, ini aku tahu, sebab Alkitab mengatakannya.” Doa ini membentuk keyakinan mereka akan Tuhan dalam suatu cara yang indah. Membantu mereka untuk menyadari di tingkat paling dasar bahwa Tuhan sungguh mengasihi masing-masing kita. Dan sungguh Kitab Suci mengatakan kepada kita bahwa Tuhan “menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran” (1 Timotius 2:4).

Hasil jajak pendapat Gallup merisaukan saya: Di antara berbagai macam denominasi Kristen di negara ini (Evangelis, Baptis, Presbyterian, Lutheran, Episcopal, Methodis, denominasi-denominasi Protestan lainnya dan Katolik), Katolik adalah yang tampaknya paling lemah meyakini bahwa “Tuhan sungguh amat mengasihi saya” dan yang tampaknya paling jarang mengatakan “Tuhan mengasihi saya.” Alasan mengapa hal ini menyedihkan saya adalah karena saya beranggapan bahwa adalah tugas utama saya sebagai seorang imam, sebagai seorang biarawan Fransiskan dan sebagai seorang Kristen untuk mewartakan kasih Tuhan. Dan ketika saya membaca bahwa orang-orang Katolik adalah yang paling lemah meyakini “Tuhan sungguh amat mengasihi saya”, saya merasa bahwa pastilah saya tidak melaksanakan perutusan mewartakan kasih Tuhan dengan baik jika orang-orang kepada siapa saya menyampaikan warta ini tidak menangkap pesan saya. Adakah orang-orang Katolik menerima lebih kabar buruk daripada kabar gembira Injil?


Mengapakah Segala Pembicaraan Mengenai Neraka Ini?

Mengapakah begitu banyak orang Katolik tidak menyadari besarnya kasih Tuhan kepada mereka? Adakah karena kita lebih menekankan pewartaan tentang gambaran akuntansi daripada gambaran orangtua? Adakah karena keterpikatan kita kepada yang jahat? Adakah karena lebih mudah menggambarkan kejahatan daripada menggambarkan rahmat? Saya tahu dari pengalaman saya sendiri bahwa jauh lebih mudah berkhotbah mengenai siksa neraka daripada menggambarkan sukacita surga. Bukan hanya para pengkhotbah, melainkan juga para penyair dan para artis lainnya tampak lebih baik dalam mengekspresikan neraka daripada surga.

Ketika saya seorang murid di Eropa, saya ingat mengunjungi katedral dimana Pengadilan Terakhir digambarkan dalam pahatan yang hidup pada pintu-pintunya yang besar. Dan saya ingat berdiri di depan lukisan “Pengadilan Terakhir” karya Michelangelo di Sistine Chapel. Dalam kedua peristiwa itu saya - bersama banyak turis lainnya - selalu lebih tertarik dengan siksa jiwa-jiwa terkutuk daripada sukacita jiwa-jiwa kudus. Neraka menarik perhatian kita semua.

Banyak pengkhotbah menyampaikan kepada kita mengenai akhir dunia, menafsirkan Kitab Suci sedemikian rupa guna menunjukkan kepada kita pemusnahan yang telah Tuhan rancangkan atas ciptaan. Mereka melukiskan gambaran akan jiwa-jiwa tak terhitung banyaknya yang terbakar di neraka. Apabila kita mendengar kisah-kisah ini, baiklah kita ingat, seperti diperingatkan dalam Katekismus Gereja Katolik, bahwa pernyataan-pernyataan Kitab Suci dan ajaran Gereja mengenai neraka merupakan peringatan kepada manusia supaya mempergunakan kebebasannya secara bertanggungjawab dalam hubungannya dengan nasib abadinya. Semua itu juga merupakan himbauan yang mendesak supaya bertobat.

Meski Gereja secara definitif mengajarkan keberadaan dan kekekalan neraka, Gereja tidak pernah mengajarkan bahwa seseorang sungguh berada di neraka. Penghakiman adalah hak Allah semata. Apabila kita merenungkan keselamatan dengan mempergunakan metafora, “Tuhan adalah orangtua yang mengasihi”, maka jumlah mereka yang kita bayangkan terkutuk akan berkurang secara drastis! Seperti dijelaskan dalam Katekismus, tujuan dari bahasa ini adalah untuk memanggil kita, orang-orang yang hidup, pada tanggung jawab dan untuk menanggapi kasih Orangtua Surgawi kita.


Berapa Banyakkah yang Diselamatkan?

Budaya Amerika kita begitu diresapi semangat individualisme hingga sulit membayangkan bahwa kita hidup dalam kebersamaan. Kita begitu terbiasa berpikir bahwa dosa adalah suatu tindakan pribadi hingga sulit menyadari, seperti diperingatkan Paus Yohanes Paulus II, bahwa setiap dosa berakibat pada yang lain, Gereja, dan sungguh segenap ciptaan.

Kita jarang berpikir bahwa seluruh ciptaan diselamatkan. “Sebab dengan sangat rindu seluruh makhluk menantikan saat anak-anak Allah dinyatakan. Karena seluruh makhluk telah ditaklukkan kepada kesia-siaan, bukan oleh kehendaknya sendiri, tetapi oleh kehendak Dia, yang telah menaklukkannya, tetapi dalam pengharapan, karena makhluk itu sendiri juga akan dimerdekakan dari perbudakan kebinasaan dan masuk ke dalam kemerdekaan kemuliaan anak-anak Allah. Sebab kita tahu, bahwa sampai sekarang segala makhluk sama-sama mengeluh dan sama-sama merasa sakit bersalin” (Roma 8:19-22).

Metafora akuntansi dapat menghantar kita untuk mengabaikan teks-teks tertentu dari Kitab Suci dan liturgi yang tampaknya tidak sesuai dengan gagasan kita mengenai keselamatan. Misalnya, ayat Kitab Suci yang mengatakan bahwa Tuhan “sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat” (2 Petrus 3:9); atau Doa Syukur Agung: “Terimalah dan minumlah: inilah piala darah-Ku, darah perjanjian baru dan kekal, yang ditumpahkan bagimu dan bagi semua orang demi pengampunan dosa…. Maka kami mohon, ya Tuhan, sudilah menerima persembahan kami, hamba-hamba-Mu, dan persembahan seluruh keluarga-Mu ini: bimbinglah jalan hidup kami dalam damai-Mu, luputkanlah kami dari hukuman kekal, dan terimalah kami dalam kawanan para pilihanmu (Doa Syukur Agung I).

Kita melihat orang-orang di sekitar kita yang melakukan hal-hal yang jahat. Kita melihat kejahatan yang dilakukan laki-laki dan perempuan itu terhadap kasih dengan mana Tuhan memeluk kita. Tetapi, jika kita memandang Tuhan sebagai Orangtua Surgawi kita, maka kejahatan dan dosa tidak lebih dipandang sebagai perbuatan-perbuatan yang dapat mendatangkan hukuman, melainkan sebagai perbuatan-perbuatan yang menghalangi kita menanggapi peluk kasih Allah.

Hal-hal apakah (perbuatan, orang, sikap) yang dapat menghalangi kita menanggapi kasih kebapaan Allah bagi kita? Yesus mengatakan bahwa salah satu dari hal-hal di urutan teratas dalam daftar yang menghalangi kita dari Allah adalah kekayaan (suatu kejutan lain bagi mereka yang terbiasa dengan metafora akuntansi dalam keselamatan!) Sebagai seorang biarawan Fransiskan, saya berpikiran bahwa inilah alasan mengapa St Fransiskus, si miskin dari Assisi, dapat menanggapi kasih Bapa dengan begitu sepenuhnya: Tak ada keterikatan pada harta yang menghalangi jalannya.

Ketika pemuda kaya dalam Injil bertanya kepada Yesus, “Apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?”, Yesus memintanya untuk melepaskan segala hartanya. “Lalu Yesus memandang murid-murid-Nya di sekeliling-Nya dan berkata kepada mereka: `Alangkah sukarnya orang yang beruang masuk ke dalam Kerajaan Allah.' Murid-murid-Nya tercengang mendengar perkataan-Nya itu. Tetapi Yesus menyambung lagi: `Anak-anak-Ku, alangkah sukarnya masuk ke dalam Kerajaan Allah. Lebih mudah seekor unta melewati lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah.' Mereka makin gempar dan berkata seorang kepada yang lain: `Jika demikian, siapakah yang dapat diselamatkan?'” (Markus 10:17-26).

Di sinilah kunci untuk memahami metafora orangtua dalam keselamatan. Apabila kita berpikir mengenai kasih, kita cenderung berpikir akan cara-cara dengan mana manusia dikasihi. Membayangkan kedahsyatan kasih Allah bagi kita adalah sulit, jika bukan tidak mungkin. Bersama para murid kita bertanya, “Bagaimana mungkin?” Yesus segera menjawab murid-murid-Nya, “Bagi manusia hal itu tidak mungkin, tetapi bukan demikian bagi Allah. Sebab segala sesuatu adalah mungkin bagi Allah” (Markus 10:27).


* Fr Thomas Richstatter, O.F.M., has a doctorate in liturgy and sacramental theology from the Institut Catholique of Paris. A popular writer and lecturer, Father Richstatter teaches courses on the sacraments at St. Meinrad (Indiana) School of Theology.

sumber : “Who Will Be Saved? What Catholics Believe About Salvation by Thomas Richstatter, O.F.M.”; Copyright St. Anthony Messenger Press; www.americancatholic.org

“diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya”

Mengapa Kamu Seorang Katolik?

oleh: P. William P. Saunders *


Terkadang saya bertemu dengan orang-orang yang mengatakan, “Oh, saya dulu seorang Katolik.” Kemudian mereka bertanya, “Mengapakah kamu tetap tinggal dalam Gereja Katolik?” Mohon jawaban yang baik untuk menanggapi pertanyaan “Mengapa kamu seorang Katolik?”
~ seorang pembaca di Springfield

Setiap orang Katolik sepatutnya dapat memberikan suatu jawaban yang mantap dan mendalam atas pertanyaan, “Mengapa kamu seorang Katolik?” Tentu saja, bagi tiap-tiap invidivu, jawabannya bersifat amat pribadi dan mungkin agak berbeda dari jawaban orang lain. Saya harap, tak seorang pun dari kita yang telah dewasa akan sekedar menjawab, “Yah, karena orangtua membaptisku Katolik” atau “Aku dibesarkan secara Katolik” atau “Keluargaku semuanya Katolik.” Bukan. Bagi masing-masing kita, jawabannya haruslah pribadi, dari lubuk hati dan penuh keyakinan. Saya akan memberikan jawaban saya atas pertanyaan ini.

Pertama-tama, saya akan mengatakan bahwa saya seorang Katolik karena inilah Gereja yang didirikan Yesus Kristus. Sejarahwan paling ahli sekalipun akan harus mengakui bahwa Gereja Kristen pertama yang ada sejak jaman Kristus adalah Gereja Katolik Roma. Perpecahan besar pertama dalam kekristenan baru muncul pada tahun 1054, ketika Patriark Konstantinopel berselisih dengan paus atas siapa yang lebih berwenang; sang Patriark mengekskomunikasi paus, yang ganti mengekskomunikasi Patriark, dan lahirlah Gereja-gereja “Orthodox”. Kemudian, pada tahun 1517, Martin Luther memicu gerakan Protestan, dan ia diikuti oleh Calvin, Zwingli dan Henry VIII. Sejak itu, Protestanisme telah terpecah-pecah menjadi banyak Gereja-gereja Kristen lainnya.

Namun demikian, satu-satunya Gereja dan Gereja Kristen pertama yang didirikan Kristus adalah Gereja Katolik. Pernyataan ini tidak berarti bahwa tidak ada kebaikan dalam Gereja-gereja Kristen lainnya. Tidak pula berarti bahwa orang-orang Kristen lainnya tidak dapat masuk surga. Tetapi, sungguh berarti bahwa ada sesuatu yang istimewa mengenai Gereja Katolik. Konsili Vatican II dalam “Konstitusi Dogmatis tentang Gereja” memaklumkan bahwa kepenuhan dari sarana-sarana keselamatan ada dalam Gereja Katolik sebab inilah Gereja yang didirikan Kristus (No. 8).

Alasan kedua mengapa saya seorang Katolik ialah karena suksesi apostolik. Yesus mempercayakan otoritas-Nya kepada para rasul. Ia memberikan otoritas khusus kepada Petrus, yang disebut-Nya sebagai “batu karang” dan kepada siapa Ia mempercayakan kunci Kerajaan Allah. Sejak jaman para rasul, otoritas ini telah diwariskan melalui Salramen Imamat dari uskup ke uskup, dan kemudian diperluas ke imam dan diakon. Uskup kita sendiri, andai mau, dapat menelusuri kembali otoritasnya sebagai seorang uskup hingga ke jaman para rasul. Bulan Mei yang lalu, diadakan tahbisan imamat di katedral kita. Dalam tahbisan suci itu, Bapa Uskup menumpangkan tangannya ke atas kepala calon imam yang akan ditahbiskan. Dalam saat khidmad itu, suksesi apostolik diwariskan. Dalam terang iman, orang dapat melihat bukan saja Bapa Uskup, melainkan St Petrus dan St Paulus, bahkan Yesus Sendiri, menyampaikan tahbisan suci. Tidak ada uskup, imam ataupun diakon dalam Gereja kita yang menahbiskan dirinya sendiri atau memproklamirkan dirinya sendiri; tetapi otoritas itu berasal dari Yesus Sendiri dan dijaga oleh Gereja.

Alasan ketiga mengapa saya seorang Katolik adalah karena kita percaya akan kebenaran, yakni kebenaran mutlak yang diberikan oleh Tuhan Sendiri. Kristus menyebut Diri-Nya sebagai “jalan dan kebenaran dan hidup” (Yoh 14:6). Ia menganugerahkan kepada kita Roh Kudus, yang disebut-Nya Roh Kebenaran (Yoh 14:17), yang akan mengajarkan segala sesuatu kepada kita dan yang akan mengingatkan kita akan semua yang telah Ia ajarkan (Yoh 14:26). Kebenaran Kristus telah dipelihara dalam Kitab Suci. Konsili Vatican II dalam “Konstitusi Dogmatis tentang Wahyu Ilahi” memaklumkan bahwa, “segala sesuatu, yang dinyatakan oleh para pengarang yang ilhami atau hagiograf (penulis suci), harus dipandang sebagai pernyataan Roh Kudus, maka harus diakui, bahwa Kitab Suci mengajarkan dengan teguh dan setia serta tanpa kekeliruan kebenaran, yang oleh Allah dikehendaki supaya dicantumkan dalam kitab-kitab suci demi keselamatan kita” (No. 11). Kebenaran ini terus dipelihara dan diterapkan pada suatu masa dan budaya tertentu oleh magisterium, yakni otoritas mengajar Gereja. Sementara kita menghadapi berbagai macam issue seperti bioetika atau euthanasia - masalah-masalah yang tak pernah dibicarakan secara spesifik dalam Kitab Suci - betapa beruntungnya kita mempunyai Gereja yang mengatakan “Cara hidup seperti ini adalah benar atau cara ini salah menurut kebenaran Kristus.” Tak heran, Gereja Katolik menjadi berita utama di surat-surat kabar; kita adalah satu-satunya Gereja yang berpendirian tegas dan mengatakan, “Ajaran ini adalah benar selaras dengan pemikiran Kristus.”

Alasan lain mengapa saya seorang Katolik adalah karena sakramen-sakramen kita. Kita percaya akan ketujuh sakramen yang dianugerahkan Yesus kepada Gereja. Masing-masing sakramen menangkap suatu unsur penting dari kehidupan Kristus, dan melalui kuasa Roh Kudus mendatangkan bagi kita keikutsertaan dalam kehidupan ilahi Allah. Sebagai contoh, coba renungkan betapa anugerah mahaberharga kita boleh menyambut Ekaristi Kudus, Tubuh dan Darah Tuhan kita, atau menyadari bahwa dosa-dosa kita telah sungguh diampuni dan jiwa kita dipulihkan setiap kali kita menerima absolusi dalam Sakramen Tobat.

Dan yang terakhir, saya seorang Katolik karena orang-orang yang membentuk Gereja. Saya mengenangkan begitu banyak para kudus: St Petrus dan St Paulus yang memelihara agar Injil hidup pada masa-masa awali. Pada masa penganiayaan Romawi, para martir awal Gereja - seperti St Anastasia, St Lusia, St Yustinus atau St Ignatius dari Antiokhia, yang pada tahun 100 menyebut Gereja “Katolik” - membela iman dan menderita aniaya maut karenanya. Pada Abad-abad Kegelapan, ketika banyak hal sungguh “gelap”, memancarlah terang yang benderang dari St Fransiskus, St Dominikus dan St Katarina dari Siena. Pada masa gerakan Protestan, ketika bidaah mengoyak Gereja, Gereja dibela oleh St Robertus Bellarmino dan St Ignatius Loyola, para reformator sejati. Saya berpikir mengenai para kudus yang hidup di jaman kita, seperti Moeder Teresa atau Paus Yohanes Paulus II, yang dari hari ke hari melakukan karya kudus Allah. Ada begitu banyak para kudus yang mengilhami masing-masing kita untuk menjadi warga Gereja yang baik.

Tetapi ada mereka-mereka yang lain juga. Pada waktu Misa, arahkanlah pandangan ke sekeliling gerejamu. Lihatlah pasangan-pasangan suami isteri yang berjuang untuk mengamalkan Sakramen Perkawinan dalam abad yang memperturutkan hawa nafsu dan perselingkuhan. Lihatlah orang-orangtua yang rindu mewariskan iman kepada anak-anak mereka. Lihatlah kaum muda yang berjuang untuk mengamalkan iman kendati dunia yang penuh pencobaan. Lihatlah kaum lanjut usia yang tetap setia kendati perubahan-perubahan dalam dunia dan Gereja. Lihatlah para imam dan kaum religius yang membaktikan hidup mereka demi melayani Tuhan dan Gereja-Nya. Ada begitu banyak orang yang membentuk Gereja kita.

Ya, tak seorang pun sempurna. Kita berdosa. Itulah sebabnya mengapa salah satu doa terindah dalam Perayaan Misa dipanjatkan sebelum tanda damai; kita berdoa, “Tuhan Yesus Kristus, jangan memperhitungkan dosa kami, tetapi perhatikanlah iman Gereja-Mu.” Ya, kendati segala kelemahan manusia, Gereja, sebagai lembaga yang didirikan oleh Kristus, terus melaksanakan misi-Nya di dunia ini.

Singkat kata, itulah alasan-alasan mengapa saya seorang Katolik dan seorang warga Gereja Katolik Roma. Alasan-alasan ini bukanlah asal. Melainkan, mencerminkan permenungan mendalam dan pergulatan, setelah dibaptis Katolik, setelah melewatkan masa pendidikan di sekolah St Bernadette, setelah lulus dari SMA West Springfield, dan setelah pergumulan sengit dengan iman sepanjang hari-hari perkuliahan di William and Mary dan kemudian di Seminari. Saya harap setiap orang Katolik dapat dengan bangga memberikan suatu jawaban yang jelas dan mendalam atas pertanyaan, “Mengapa kamu seorang Katolik?”


* Fr. Saunders is dean of the Notre Dame Graduate School of Christendom College and pastor of Queen of Apostles Parish, both in Alexandria.

sumber : “Straight Answers: 'Why Are You A Catholic?'” by Fr. William P. Saunders; Arlington Catholic Herald, Inc; Copyright ©1997 Arlington Catholic Herald, Inc. All rights reserved; www.catholicherald.com

“diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin The Arlington Catholic Herald.”

Empat Sifat Gereja

oleh: P. William P. Saunders *


Mohon penjelasan mengenai empat sifat Gereja.
~ seorang pembaca di Winchester

Dalam Syahadat Nikea-Konstantinopel, kita mengaku iman kita: “Aku percaya akan Gereja yang satu, kudus, katolik, dan apostolik”. Inilah keempat sifat Gereja. Keempat sifat ini, yang tidak boleh dipisahkan satu dari yang lain, melukiskan ciri-ciri hakikat Gereja dan perutusannya. Gereja tidak memilikinya dari dirinya sendiri. Melalui Roh Kudus, Kristus menjadikan Gereja-Nya itu satu, kudus, katolik dan apostolik. Ia memanggilnya supaya melaksanakan setiap sifat itu.

GEREJA YANG SATU. Katekismus Gereja Katolik menjelaskan bahwa Gereja itu satu, karena tiga alasan. Pertama, Gereja itu satu menurut asalnya, yang adalah Tritunggal Mahakudus, kesatuan Allah tunggal dalam tiga Pribadi - Bapa, Putra dan Roh Kudus. Kedua, Gereja itu satu menurut pendiri-Nya, Yesus Kristus, yang telah mendamaikan semua orang dengan Allah melalui darah-Nya di salib. Ketiga, Gereja itu satu menurut jiwanya, yakni Roh Kudus, yang tinggal di hati umat beriman, yang menciptakan persekutuan umat beriman, dan yang memenuhi serta membimbing seluruh Gereja (#813).

“Kesatuan” Gereja juga kelihatan nyata. Sebagai orang-orang Katolik, kita dipersatukan dalam pengakuan iman yang satu dan sama, dalam perayaan ibadat bersama terutama sakramen-sakramen, dan struktur hierarkis berdasarkan suksesi apostolik yang dilestarikan dan diwariskan melalui Sakramen Tahbisan Suci. Sebagai misal, entah kita ikut ambil bagian dalam Misa di Surabaya, Alexandria, San Francisco, Moscow, Mexico City, atau di manapun, Misanya sama - bacaan-bacaan, tata perayaan, doa-doa, dan lain sebagainya terkecuali bahasa yang dipergunakan dapat berbeda - dirayakan oleh orang-orang percaya yang sama-sama beriman Katolik, dan dipersembahkan oleh Imam yang dipersatukan dengan Uskupnya, yang dipersatukan dengan Bapa Suci, Paus, penerus St Petrus.

Namun demikian, Gereja yang satu ini memiliki kemajemukan yang luar biasa. Umat beriman menjadi saksi iman dalam panggilan hidup yang berbeda-beda dan dalam beraneka bakat serta talenta, tetapi saling bekerjasama untuk meneruskan misi Tuhan kita. Keanekaragaman budaya dan tradisi memperkaya Gereja kita dalam ungkapan iman yang satu. Pada intinya, cinta kasih haruslah merasuki Gereja, sebab melalui cinta kasihlah para anggotanya saling dipersatukan dalam kebersamaan dan saling bekerjasama dalam persatuan yang harmonis.

GEREJA YANG KUDUS. Tuhan kita Sendiri adalah sumber dari segala kekudusan: “Sebab hanya satulah Pengantara dan jalan keselamatan, yakni Kristus. Ia hadir bagi kita dalam tubuh-Nya, yakni Gereja” (Konstitusi Dogmatis tentang Gereja, #14). Kristus menguduskan Gereja, dan pada gilirannya, melalui Dia dan bersama Dia, Gereja adalah agen pengudusan-Nya. Melalui pelayanan Gereja dan kuasa Roh Kudus, Tuhan kita mencurahkan berlimpah rahmat, teristimewa melalui sakramen-sakramen. Oleh karena itu, melalui ajarannya, doa dan sembah sujud, serta perbuatan-perbuatan baik, Gereja adalah tanda kekudusan yang kelihatan.

Namun demikian, kita patut ingat bahwa masing-masing kita, sebagai anggota Gereja, telah dipanggil kepada kekudusan. Melalui Sakramen Baptis, kita telah dibebaskan dari dosa asal, dipenuhi dengan rahmat pengudusan, dibenamkan ke dalam misteri sengsara, wafat dan kebangkitan Tuhan, dan dipersatukan ke dalam Gereja, “umat kudus Allah”. Dengan rahmat Tuhan, kita berjuang mencapai kekudusan. Konsili Vatican Kedua mendesak, “Segenap umat Katolik wajib menuju kesempurnaan Kristen, dan menurut situasi masing-masing mengusahakan, supaya Gereja, seraya membawa kerendahan hati dan kematian Yesus dalam tubuhnya, dari hari ke hari makin dibersihkan dan diperbaharui, sampai Kristus menempatkannya di hadapan Dirinya penuh kemuliaan, tanpa cacat atau kerut” (Dekrit tentang Ekumenisme, #4).

Gereja kita telah ditandai dengan teladan-teladan kekudusan yang luar biasa dalam hidup para kudus sepanjang masa. Tak peduli betapa gelapnya masa bagi Gereja kita, selalu ada para kudus besar melalui siapa terang Kristus dipancarkan. Ya, kita manusia yang rapuh, dan terkadang kita jatuh dalam dosa; tetapi, kita bertobat dari dosa kita dan sekali lagi kita melanjutkan perjalanan di jalan kekudusan. Dalam arti tertentu, Gereja kita adalah Gereja kaum pendosa, bukan kaum yang merasa diri benar atau merasa yakin akan keselamatannya sendiri. Salah satu doa terindah dalam Misa dipanjatkan sebelum Tanda Damai, “Tuhan Yesus Kristus, jangan memperhitungkan dosa kami, tetapi perhatikanlah iman Gereja-Mu.” Meski individu-individu warga Gereja rapuh dan malang, jatuh dan berdosa, Gereja terus menjadi tanda dan sarana kekudusan.

GEREJA YANG KATOLIK. St Ignatius dari Antiokhia (± tahun 100) mempergunakan kata ini yang berarti “universal” untuk menggambarkan Gereja (surat kepada jemaat di Smyrna). Gereja bersifat Katolik dalam arti bahwa Kristus secara universal hadir dalam Gereja dan bahwa Ia telah mengutus Gereja untuk mewartakan Injil ke seluruh dunia - “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku” (Matius 28:19).

Di samping itu, patut kita ingat bahwa Gereja di sini di dunia - yang kita sebut Gereja Pejuang - dipersatukan dengan Gereja Jaya di surga dan Gereja Menderita di purgatorium. Inilah pengertian dari persekutuan para kudus - persatuan umat beriman di surga, di api penyucian, dan di bumi.

Dan akhirnya, GEREJA YANG APOSTOLIK. Kristus mendirikan Gereja dan mempercayakan otoritas-Nya kepada para rasul-Nya, para uskup yang pertama. Ia mempercayakan otoritas khusus kepada St Petrus, Paus Pertama dan Uskup Roma, untuk bertindak sebagai Vicar-Nya (= wakil-Nya) di sini di dunia. Otoritas ini telah diwariskan melalui Sakramen Tahbisan Suci dalam apa yang kita sebut suksesi apostolik dari uskup ke uskup, dan kemudian diperluas ke imam dan diakon. Uskup kita sendiri, andai mau, dapat menelusuri kembali suksesi apostoliknya sebagai seorang uskup hingga ke salah satu dari para rasul. Ketika Bapa Uskup mentahbiskan tujuh imam bagi keuskupan kita pada tanggal 15 Mei yang lalu, beliau melakukannya dengan otoritas suksesi apostolik. Ketujuh imam itu, pada gilirannya ikut ambil bagian dalam imamat Tuhan kita Yesus Kristus. Tak ada uskup, imam atau diakon dalam Gereja kita yang mentahbiskan dirinya sendiri atau memaklumkan dirinya sendiri, melainkan, ia dipanggil oleh Gereja dan ditahbiskan ke dalam pelayanan apostolik yang dianugerahkan Tuhan kita kepada Gereja-Nya untuk dilaksanakan dalam persatuan dengan Paus.

Gereja adalah juga apostolik dalam arti warisan iman seperti yang kita dapati dalam Kitab Suci dan Tradisi Suci dilestarikan, diajarkan dan diwariskan oleh para rasul. Di bawah bimbingan Roh Kudus, Roh kebenaran, Magisterium (= otoritas mengajar Gereja yang dipercayakan kepada para rasul dan penerus mereka) berkewajiban untuk melestarikan, mengajarkan, membela dan mewariskan warisan iman. Di samping itu, Roh Kudus melindungi Gereja dari kesalahan dalam otoritas mengajarnya. Meski seturut berjalannya waktu, Magisterium harus menghadapi masalah-masalah terkini, seperti perang nuklir, eutanasia, pembuahan in vitro, prinsip-prinsip kebenaran yang sama diberlakukan di bawah bimbingan Roh Kudus.

Keempat sifat Gereja ini - satu, kudus, katolik dan apostolik - sepenuhnya disadari dalam Gereja Kristus. Sementara Gereja Kristen lainnya menerima dan mengaku syahadat dan mempunyai unsur-unsur kebenaran dan pengudusan, tetapi hanya Gereja Katolik Roma yang mencerminkan kepenuhan dari sifat-sifat ini. Konsili Vatican Kedua mengajarkan, “Gereja itu [yang didirikan Kristus], yang didunia ini disusun dan diatur sebagai serikat, berada dalam Gereja Katolik, yang dipimpin oleh pengganti Petrus dan para Uskup dalam persekutuan dengannya” (Konstitusi Dogmatis tentang Gereja, #8), dan “Hanya melalui Gereja Kristus yang Katolik-lah, yakni upaya umum untuk keselamatan, dapat dicapai seluruh kepenuhan upaya-upaya penyelamatan” (Dekrit tentang Ekumenisme, #3). Sebab itu, adalah kewajiban kita untuk menjadikan keempat sifat ini kelihatan nyata dalam kehidupan ktia sehari-hari.


* Fr. Saunders is dean of the Notre Dame Graduate School of Christendom College and pastor of Queen of Apostles Parish, both in Alexandria.

sumber : “Straight Answers: The Four Marks of the Church” by Fr. William P. Saunders; Arlington Catholic Herald, Inc; Copyright ©1999 Arlington Catholic Herald, Inc. All rights reserved; www.catholicherald.com

“diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin The Arlington Catholic Herald.”

Gereja Katolik: Satu, Kudus, Katolik & Apostolik

oleh: P. Francis J. Peffley


Hampir 2000 tahun yang lalu, Yesus Kristus menetapkan Gereja-Nya di dunia. Selama berabad-abad, Gereja-Nya itu tetap satu, memenuhi perkataan St. Paulus akan “satu Tuhan, satu iman, satu baptisan”, dan melestarikan ajaran-ajaran Kitab Suci serta tradisi-tradisi Kristiani. Namun demikian, bermula dari Reformasi Protestan pada tahun 1500, sekonyong-konyong, dengan sangat menyedihkan, kekristenan terpecah-belah menjadi begitu banyak sekte. Kaum pemrotes ini (yang kemudian dikenal sebagai Protestan) menolak iman Katolik dan melepaskan diri dari Gereja. Mereka mendirikan gereja-gereja baru dengan hukum-hukum baru serta pemimpin-pemimpin baru. Banyak di antara sekte-sekte ini, seiring dengan berjalannya waktu, akhirnya terpecah-belah lagi menjadi sekte-sekte baru yang saling tidak bersesuaian satu dengan lainnya. Hingga saat ini, tercatat kurang lebih 30.000 sekte Protestan yang berbeda, masing-masing percaya akan ajaran mereka masing-masing, yang saling bertentangan satu dengan lainnya.

Sementara itu, tetap hanya ada satu Gereja Katolik Roma; yang tetap satu dalam iman dan kepercayaan setelah 2000 tahun lamanya. Yang menjadikan Gereja Katolik unik adalah keempat “sifat” atau ciri-ciri hakikat Gereja, yaitu, Satu, Kudus, Katolik dan Apostolik.


SATU

Gereja Katolik adalah SATU karena semua anggotanya mempraktekkan satu iman, satu dalam komuni, dan ada di bawah Kepala Gereja yang satu, yaitu Paus, yang mewakili Kepala Gereja yang tidak kelihatan, yaitu Yesus Kristus (Yoh 10:16). Di negara mana pun kita tinggal, ajaran-ajaran pokok iman dan kepercayaan yang sama akan membimbing iman kita sebagai seorang Katolik, mempersatukan kita - semua orang Katolik di seluruh dunia - dalam iman. Di gereja-gereja Katolik di seluruh dunia kita akan mendengar - walaupun dalam bahasa yang berbeda-beda - doa-doa dasar yang sama (Bapa Kami, Salam Maria, Kemuliaan, dll), pokok-pokok katekese yang sama, dan yang terutama Misa Kudus yang sama (yang paling utama dalam mempersatukan segala doa dan karya Gereja). Oleh karena segenap uskup, imam dan awam Katolik semuanya dipersatukan di bawah pimpinan yang sama, Bapa Paus, maka dimungkinkanlah persatuan yang sedemikian itu. Kristus Sendiri merencanakannya demikian ketika Ia memilih keduabelas Rasul-Nya (para imam dan uskup pertama Gereja) serta menetapkan Petrus sebagai kepala mereka.

KUDUS

Gereja Katolik adalah KUDUS karena pendirinya, Yesus Kristus, adalah kudus; Gereja mengajarkan ajaran-ajaran-Nya yang kudus; yang memungkinkan kita menjadi kudus (1 Pet 1:15). Yesus Kristus, Kepala Gereja yang tak nampak, menyatakan kekudusan-Nya lewat ajaran-ajaran-Nya yang murni dan tanpa salah, yang Ia wartakan semasa hidup-Nya di dunia, dan lewat mukjizat-mukjizat, serta tindakan-tindakan tanpa cela yang dilakukan-Nya. Seperti orang banyak pada zaman-Nya telah menyatakannya, hanya Tuhan Sendiri-lah, yang dapat melakukan hal-hal demikian. Yesus menghendaki kita agar mengikuti-Nya (Mat 5:48), dan melalui Gereja dan ketujuh Sakramen yang Ia tetapkan, Yesus menunjukkan jalan-Nya kepada kita. Seperti kepala memimpin tubuh, demikian juga Yesus memimpin Tubuh-Nya, yaitu Gereja, yang memungkinkan kita, melalui Dia, menjadi kudus dan dengan demikian mewarisi hidup yang kekal (Rm 8:17). Setiap Sakramen dan setiap ajaran Gereja mendekatkan kekudusan ke dalam jangkauan kita, seperti telah dibuktikan oleh begitu banyak para kudus dalam Gereja Katolik.

KATOLIK

Gereja Katolik adalah KATOLIK (bahasa Yunani, artinya 'umum' atau 'merangkul semua') dalam tiga hal. Umum menurut waktu, karena sejak saat Kristus mengutus para Rasul-Nya hingga saat ini, Gereja berdiri, mengajar, serta berkarya, untuk membawa orang datang kepada Kristus. Umum menurut tempat, sebab Gereja tidak terikat pada suatu bangsa tertentu, melainkan terbuka bagi semua orang (Mat 28:19) dan sesungguhnya, jangkauan Gereja lebih luas mencakup berbagai bangsa dibandingkan agama lain mana pun. Umum menurut ajarannya, sebab Gereja menawarkan ajaran-ajaran dan sakramen-sakramen yang sama, di mana pun, dalam bahasa apa pun, dan dalam berbagai tingkatan sosial, mulai dari yang kaya hingga yang miskin. Lagipula, sesuai janji Yesus Sendiri, Gereja akan tetap terus demikian hingga akhir jaman.

APOSTOLIK

Gereja Katolik adalah APOSTOLIK karena didirikan oleh Kristus atas para apostolos (bahasa Latin, artinya rasul) dan senantiasa dipimpin oleh para penerus mereka. Setelah Kristus menetapkan keduabelas rasul-Nya (Lukas 6:14) sebagai para imam dan para uskup pertama Gereja, selanjutnya mereka menetapkan para rasul lain (Kis 1:23), para diakon (Kis 6:5), para imam (1Tim 4:14; Titus 1:5), para uskup (Flp 1:1) dan para murid guna melestarikan serta menyebarluaskan ajaran-ajaran Kristus. Paus Yohanes Paulus II adalah Uskup Roma yang ke-264; St. Petrus yang pertama. Uskup Roma merupakan pemimpin dari semua uskup di seluruh dunia, sama seperti St. Petrus dipilih Kristus untuk menjadi pemimpin atas para rasul (Mat 16:18; Yoh 21:15). Uskup Roma lebih dikenal dengan sebutan “Paus”, yang berasal dari kata Latin papa, artinya “Bapa”.


sumber : “Timeline of Christianity” by Father Peffley; Father Peffley's Web Site; www.transporter.com/fatherpeffley
“diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin Fr. Francis J. Peffley.”

St. Theresia Lisieux

Rahasia 'Jalan Kecil'
Oleh Suster Patricia Edward, FSP
St. Theresia Liseux

Pernahkah kamu mendengar tentang St. Theresia atau rahasianya? Tahukah kamu mengapa banyak orang memilihnya sebagai santa sahabat mereka?
Mari kita cari jawabnya …

KISAH HIDUP THERESIA

Theresia Martin dilahirkan di kota Alençon, Perancis, pada tanggal 2 Januari 1873. Ayahnya bernama Louis Martin dan ibunya Zelie Guerin. Pasangan tersebut dikarunia sembilan orang anak, tetapi hanya lima yang bertahan hidup hinga dewasa. Kelima bersaudara itu semuanya puteri dan semuanya menjadi biarawati!

Ketika Theresia masih kanak-kanak, ibunya terserang penyakit kanker. Pada masa itu, mereka belum memiliki obat-obatan dan perawatan khusus seperti sekarang. Para dokter mengusahakan yang terbaik untuk menyembuhkannya, tetapi penyakit Nyonya Martin bertambah parah. Ia meninggal dunia ketika Theresia baru berusia empat tahun.

Sepeninggal isterinya, ayah Theresia memutuskan untuk pindah ke kota Lisieux, di mana kerabat mereka tinggal. Di dekat sana ada sebuah biara Karmel di mana para suster berdoa secara khusus untuk kepentingan seluruh dunia. Ketika Theresia berumur sepuluh tahun, seorang kakaknya, Pauline, masuk biara Karmel di Lisieux. Hal itu amat berat bagi Theresia. Pauline telah menjadi "ibunya yang kedua", merawatnya dan mengajarinya, serta melakukan semua hal seperti yang dilakukan ibumu untuk kamu. Theresia sangat kehilangan Pauline hingga ia sakit parah. Meskipun sudah satu bulan Theresia sakit, tak satu pun dokter yang dapat menemukan penyakitnya. Ayah Theresia dan keempat saudarinya berdoa memohon bantuan Tuhan. Hingga, suatu hari patung Bunda Maria di kamar Theresia tersenyum padanya dan ia sembuh sama sekali dari penyakitnya!

Suatu ketika, Theresia mendengar berita tentang seorang penjahat yang telah melakukan tiga kali pembunuhan dan sama sekali tidak merasa menyesal. Theresia mulai berdoa dan melakukan silih bagi penjahat itu (seperti menghindari hal-hal yang ia sukai dan mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang kurang ia sukai). Ia memohon pada Tuhan untuk mengubah hati penjahat itu. Sesaat sebelum kematiannya, penjahat itu meminta salib dan mencium Tubuh Yesus yang tergantung di kayu salib. Theresia sangat bahagia! Ia tahu bahwa penjahat itu telah menyesali dosanya di hadapan Tuhan.

Theresia sangat mencintai Yesus. Ia ingin mempersembahkan seluruh hidupnya bagi-Nya. Ia ingin masuk biara Karmel agar ia dapat menghabiskan seluruh harinya dengan bekerja dan berdoa bagi orang-orang yang belum mengenal dan mengasihi Tuhan. Tetapi masalahnya, ia terlalu muda. Jadi, ia berdoa dan menunggu dan menunggu dan berdoa. Hingga akhirnya, ketika umurnya lima belas tahun, atas ijin khusus dari Paus, ia diijinkan masuk biara Karmelit di Liseux.

Apa yang dilakukan Theresia di biara? Tidak ada yang istimewa. Tetapi, ia mempunyai suatu rahasia: CINTA. Suatu ketika Theresia mengatakan, "Tuhan tidak menginginkan kita untuk melakukan ini atau pun itu, Ia ingin kita mencintai-Nya." Jadi, Theresia berusaha untuk selalu mencintai. Ia berusaha untuk senantiasa lemah lembut dan sabar, walaupun itu bukan hal yang selalu mudah. Para suster biasa mencuci baju-baju mereka dengan tangan. Seorang suster tanpa sengaja selalu mencipratkan air kotor ke wajah Theresia. Tetapi Theresia tidak pernah menegur atau pun marah kepadanya. Theresia juga menawarkan diri untuk melayani suster tua yang selalu bersungut-sungut dan banyak kali mengeluh karena sakitnya. Theresia berusaha melayani dia seolah-olah ia melayani Yesus. Ia percaya bahwa jika kita mengasihi sesama, kita juga mengasihi Yesus. Mencintai adalah pekerjaan yang membuat Theresia sangat bahagia.

Hanya sembilan tahun lamanya Theresia menjadi biarawati. Ia terserang penyakit tuberculosis (TBC) yang membuatnya sangat menderita. Kala itu belum ada obat yang dapat menyembuhkan penyakit TBC. Dokter hanya bisa sedikit menolong. Ketika ajal menjelang, Theresia memandang salib dan berbisik, "O, aku cinta pada-Nya, Tuhanku, aku cinta pada-Mu!" Pada tanggal 30 September 1897, Theresia meninggal dunia ketika usianya masih duapuluh empat tahun. Sebelum wafat, Theresia berjanji untuk tidak menyerah pada rahasianya. Ia berjanji untuk tetap mencintai dan menolong sesama dari surga. Sebelum meninggal Thresesia mengatakan, "Dari surga aku akan berbuat kebaikan bagi dunia." Dan ia menepati janjinya! Semua orang dari seluruh dunia yang memohon bantuan St. Theresia untuk mendoakan mereka kepada Tuhan telah memperoleh jawaban atas doa-doa mereka.

SETELAH THERESIA WAFAT

Setelah wafat, Theresia menjadi terkenal karena buku yang ditulisnya "Kisah Suatu Jiwa," yang diterbitkan satu tahun setelah wafatnya (di Indonesia diterjemahkan dengan judul: 'Aku Percaya akan Cinta Kasih Allah'). Theresia dikanonisasi pada tahun 1925 oleh Paus Pius X. Ia dikenal dengan sebutan Santa Theresia dari Kanak-kanak Yesus atau Santa Theresia si Bunga Kecil. St. Theresia bersama-sama dengan St. Jeanne d'Arc diberi gelar Pelindung Perancis. Selain itu St. Theresia bersama-sama dengan St. Fransiskus Xaverius diberi gelar Pelindung Misionaris. Baru-baru ini, tanggal 19 Oktober 1997, Theresia juga menjadi wanita ke-3 yang diberi gelar Doktor Gereja. Kalian dapat mohon bantuannya mengenai apa saja. Ia pernah berjanji akan melimpahi kita dengan bunga-bunga mawar dari surga dan memang, sejak kematiannya banyak mukjizat yang terjadi berkat bantuan doanya. Pestanya dirayakan setiap tanggal 1 Oktober.

RAHASIA THERESIA : JALAN KECIL, JALAN KANAK-KANAK ROHANI

Theresia seorang gadis yang sederhana dengan `jalan kecilnya' yang istimewa. Ia menunjukkan bahwa kekudusan dapat dicapai oleh siapa saja betapa pun rendah, hina dan biasanya orang itu. Caranya ialah dengan melaksanakan pekerjaan-pekerjaan kecil dan tugas sehari-hari dengan penuh cinta kasih murni kepada Tuhan. Kamu pun dapat menjadi kudus dengan cara-cara sederhana seperti yang dilakukan oleh St. Theresia dengan jalan kecilnya.


DOA

O Santa Theresia dari Kanak-Kanak Yesus
tolong petikkan bagiku sekuntum mawar
dari taman surgawi dan
kirimkan padaku dengan suatu amanat cinta.
O Bunga Kecil dari Yesus
mintalah kepada Allah hari ini
untuk menganugerahkan rahmat yang sangat kubutuhkan ………
(katakan kepada St. Theresia permohonanmu)
Santa Theresia, bantulah aku untuk senantiasa percaya
kepada belaskasih Allah yang sedemikian besar,
sebagaimana telah engkau wujudkan di dalam hidupmu,
sehingga aku boleh mengikuti 'Jalan Kecil'mu setiap hari.
Amin.

Sumber: Daughters of St. Paul, United States; www.daughtersofstpaul.com

CATATAN ST. THERESIA DARI KANAK-KANAK YESUS

"Oh Yesus, aku tahu cinta hanya dapat dibalas dengan cinta, maka aku sudah menemukan alat untuk memuaskan hatiku dengan memberikan cinta kepada Cinta-Mu." (Otobiografi)

"Kamu ingin supaya aku memberitahukan sarana untuk menjadi sempurna. Aku hanya tahu satu ini saja: CINTA." (Otobiografi, surat kepada Marie Guerin)

"Perbuatan-perbuatan yang gemilang bukan untukku.... Jadi, bagaimanakah akan kubuktikan cintaku, karena cinta dibuktikan dalam perbuatan? Dengan perbuatan dan kurbanku yang kecil-kecil. Ya Yesus, hal-hal kecil yang tak berarti itu akan menyenangkan Engkau!" (Otobiografi)

"Aku merasa diriku dikuasai oleh sekian banyak kelemahan, namun itu tidak pernah membuatku heran ... alangkah manisnya merasakan diriku lemah dan kecil." (Percakapan Terakhir)

"Kekudusan adalah suatu sikap hati, yang menempatkan kita ke dalam tangan Tuhan, kecil dan rendah hati, menyadari kelemahan kita dan secara buta mengandalkan kebaikan Ke-Bapaan-Nya." (Percakapan Terakhir)

"Di suatu hari Minggu kupandang Yesus di salib. Hatiku tersentuh oleh darah yang menetes dari tangan-Nya yang kudus. Kurasa sungguh sayang, sebab darah itu menetes ke tanah tanpa ada yang menampungnya. Aku pun memutuskan untuk dalam Roh tinggal di kaki salib supaya dapat menampung darah Ilahi yang tercurah dari salib itu dan aku mengerti bahwa setelah itu aku harus menuangkannya atas jiwa-jiwa." (Otobiografi)

“diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin Pauline Books & Media.”

Doa Bapa Kami dengan Uraian

oleh: St. Petrus Yulianus Eymard

BAPA KAMI YANG ADA DI SURGA
di surga Ekaristi,
kepada Engkau yang duduk di atas tahta rahmat dan kasih,
sembah sujud, dan hormat, dan kuasa dan kemuliaan
untuk selama-lamanya!

DIMULIAKANLAH NAMA-MU.
terutama dalam diri kami, melalui teladan semangat
kerendahan hati-Mu, ketaatan-Mu dan cinta kasih-Mu.
Semoga kami dengan segala kerendahan hati dan kerinduan kami
menjadikan Engkau semakin dikenal, dikasihi, dan dipuja segenap umat manusia
dalam Ekaristi Kudus

DATANGLAH KERAJAANMU,
Kerajaan Ekaristi-Mu.
Merajalah Engkau atas diri kami untuk selamanya
demi bertambahnya kemuliaan-Mu
melalui kuasa kasih-Mu
dan kejayaan kebajikan-Mu
dan rahmat panggilan Ekaristi
dalam keadaanku sebagai seorang awam.
Anugerahkanlah kepada kami rahmat dan perutusan kasih-Mu yang kudus
agar kami mampu dengan gemilang memperluas
kerajaan Ekaristi-Mu di mana saja
dan menyadari kerinduan yang Engkau nyatakan:
“Aku datang untuk melemparkan api ke bumi
dan betapakah Aku harapkan, api itu telah menyala!”
Oh! kiranya kami boleh menjadi sarana yang mengobarkan api surgawi ini!

JADILAH KEHENDAKMU DI ATAS BUMI SEPERTI DI DALAM SURGA,
anugerahkanlah kepada kami karunia untuk menemukan segala sukacita
dalam menginginkan Engkau saja,
dalam merindukan Engkau saja,
dalam memikirkan Engkau saja.
Berilah agar dengan senantiasa menyangkal diri
dalam segala hal,
kami boleh menemukan terang dan hidup
dalam mentaati Kehendak-Mu yang indah, mengagumkan dan sempurna.
Aku menghendaki apa yang Engkau kehendaki.
Aku menghendakinya sebab Engkau menghendakinya.
Aku menghendaki sebagaimana Engkau menghendakinya.
Aku menghendakinya selama Engkau menghendakinya.
Murnikanlah segala pikiran dan hasrat kami
jika mereka tidak murni
dari Engkau, untuk Engkau dan dalam Engkau.

BERILAH KAMI REJEKI PADA HARI INI,
Engkau Tuhan Ekaristi kami
dan Engkau Sendiri yang akan menjadi makanan dan pakaian kami,
harta dan kemuliaan kami,
penyembuh segala sakit kami,
serta perlindungan kami dalam melawan segala yang jahat.
Engkau akan menjadi segala-galanya bagi kami.

DAN AMPUNILAH KESALAHAN KAMI,
ampunilah aku ya Yesus,
aku sungguh menyesal atas dosa-dosaku
yang tak tersembunyi dari hadapan-Mu.

SEPERTI KAMI PUN MENGAMPUNI YANG BERSALAH KEPADA KAMI,
Kepada siapa saja yang bersalah kepada kami dalam hal apapun,
dengan segenap hati kami mengampuni mereka
dan bagi mereka kami mengharapkan karunia kasih-Mu.

DAN JANGANLAH MASUKKAN KAMI KE DALAM PENCOBAAN,
TETAPI BEBASKANLAH KAMI DARI YANG JAHAT,
Bebaskanlah kami, ya Yesus, dari iblis kesombongan,
ketidakmurnian, perselisihan dan kepuasan diri.
Bebaskanlah kami dari segala kekhawatiran dan kegelisahan hidup
agar dengan hati bersih dan pikiran jernih
kami boleh menikmati hidup kami dengan sukacita
dan mempersembahkan diri kami seutuhnya dan segala milik kami sepenuhnya
demi melayani Tuhan Ekaristi kami.

AMIN.
Dalam Engkau, O Tuhan Yesus, aku berharap;
jangan biarkan aku merana selamanya.
Hanya Engkau yang mahabaik.
Hanya Engkau yang mahakuasa.
Hanya Engkau yang kekal abadi.
Hanya bagi-Mu segala hormat dan kemuliaan,
puji syukur dan kasih
untuk selama-lamanya.

sumber : Our Father: paraphrased by Saint Peter Julian Eymard
“diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya”