Thursday, August 28, 2008

St. Teresa dari Avilla


St. Teresa dari Avilla
Tokoh Pembaharu Ordo Karmel
(pesta 15 Oktober)

St. Teresa dari Avilla terlahir dari keluarga bangsawan dengan nama 'Teresa Sanchez Cepeda Davila y Ahumada' pada tanggal 28 Maret 1515 di Avilla, Spanyol Tengah. Sebagai seorang anak, Teresa sangat taat pada agama. Romantika dan semangat heroik seorang bangsawan rupanya mendarah daging di dalam dirinya. Pada usia 7 tahun ia bersama kakaknya Rodrigo berniat pergi ke Afrika untuk mempertobatkan orang-orang Moor. Tentu saja rencanan ini gagal karena pamannya menghadanbg di tengah perjalanan dan membawa mereka pulang.

Sewaktu beranjak dewasa Teresa tumbuh menjadi wanita cantik yang pesolek. Ini tentu saja mencemaskan ayahnya yang religius, sehingga ayahnya memasukkan Teresa ke dalam sekolah putri yang dikelola Suster-suster St. Agustinus dimana Teresa mendapat didikan dalam disiplin yang keras.

Suatu saat Teresa mengalami sakit-sakitan sehingga ia harus kembali tinggal di rumah. Dalam masa inilah sikap religius Teresa mulai terbangun akibat pengaruh pamannya yang saleh. Teresa menjadi tertarik pada hidup religius dan masuk ke dalam Ordo Karmel di Avila, dimana ia mengucapkan kaulnya pada tahun 1534.

Pada saat Teresa bergabung, semangat religius dan kedisiplinan ordo sangat longgar dan menyimpang dari peraturan ordo yang asli. Teresa cukup menikmati situasi ini sampai suatu saat ia tergugah semangat spiritualitasnya setelah membaca buku "Pengakuan St. Agustinus". Dari sejak itu ia menyadari bahwa semangat spiritualitas ordo Karmel telah jauh menyimpang dari yang dikehendaki Tuhan. Pada tahun 1560 Teresa mengalami penampakan penderitaan orang-orang di neraka, penampakan itu semakin memperkuat tekatnya untuk menjalani hidup spiritualitas yang benar dengan melayani Yesus sepenuhnya. Pada tahun 1562 Teresa mulai memperbaharui semangat spiritualitas Karmel sebagaimana yang ditetapkan dalam regula (peraturan) ordo pada mulanya, meskipun untuk itu ia menghadapi berbagai tentangan dan hambatan dari berbagai pihak. Bersama-sama dengan St. Yohanes dari Salib, ia terus maju dalam usaha pembaharuannya dengan melakukan hidup doa kontemplatif sesuai semangat para pertapa Karmel.

Dalam usahanya itu Teresa sering mengalami pengalaman-pengalaman mistik, berbagai penampakan, dan juga mengalami fenomena levitasi. Ia juga berkali-kali mendapatkan godaan setan yang memunculkan diri dalam berbagai bentuk, tetapi semua itu dengan mudah dihalau dengan memerciki air suci. Meskipun mendapat berbagai karunia pengalaman mistik, Teresa tetap setia menjalankan berbagai tugasnya sebagai pemimpin biara, pembimbing rohani, dan penulis. Berbagai bukunya yang terkenal antara lain, "Autobiografi", "Jalan Kesempurnaan", dan karya terbesarnya "Puri Batin" yang judulnya diberikan sendiri oleh Tuhan Yesus.

Karena berbagai penyakit yang dideritanya, St. teresa meninggal dunia pada tgl. 4 Oktober 1582 ketika ia mengunjungi biara Karmel di Alba de Tormes. Tubuh St. Teresa selama hidupnya memang sering mengeluarkan keharuman, tetapi pada saat kematiannya keharuman ini semakin terasa dan menyebar sampai jauh. Berbagai keajaiban juga dilaporkan terjadi di makamnya. Kondisi ini membuat para suster menjadi curiga dan ingin melihat kondisi dari tubuh St. Teresa. Hal ini kemudian diijinkan oleh provinsial Ordo Karmel, Romo Jerome Gracian, ketika ia berkunjung ke biara tersebut. Ketika peti dibuka pada tanggal 4 Juli 1583 (sembilan bulan setelah kematiannya), tubuh St. Teresa masih tampak segar. Romo Francisco de Ribera, bapa pengakuan St. teresa bahkan melukiskan bahwa jenasahnya tampak segar seolah-olah baru saja dimakamkan. Ini juga diikuti oleh munculnya keharuman yang baru berakhir selama berhari-hari.

Makam St. Teresa berkali-kali dipindahkan sehubungan karena perebutan antara beberapa biara yang merasa berhak untuk menjadi tempat peristirahatan terakhir sang Santa suci. Juga beberapa bagian tubuhnya dibagi-bagikan kepada beberapa biara dan gerje di seluruh Eropa.

Pada tahun 1872, jantung dari St. Teresa diperiksa secara medis oleh peneliti dari Universitas Salamanca, mereka sepakat bahwa ini merupakan kasus keajaiban karena jantung tersebut tetap awet tanpa ada bahan pengawet apapun. Demikian juga ketika makam dibuka terakhir kalinya pada tahun 1914, tubuhnya yang dilaporkan masih tetap berada dalam keadaan baik sebagaimana pada pemeriksaan sebelumnya.

St. Teresa dari Avila dikanonisasi pada tahun 1622, dan pada tahun 1970 secara resmi diangkat sebagai Pujangga Gereja oleh Paus Paulus VI.

No comments: