Friday, October 10, 2008

"Irihatikah Engkau"?

oleh: P. Gregorius Kaha, SVD

Realita yang Membingungkan

Peristiwa pembagian zakat di Pasuruan yang memakan korban 21 orang tewas, dirasakan oleh banyak pihak sebagai sebuah ironi atas kemanusiaan. Demi duapuluh ribu rupiah, nyawa sama sekali tidak diperhitungkan; atau kalau kematian itu punya “Yang di atas”, pertanyaannya mengapa rasanya begitu sederhana? Jalan Tuhan, memang sulit dipahami.

Ada yang kadang bertanya kepada Tuhan, mengapa seorang diberi jabatan tertentu, padahal orangnya dianggap tidak pantas untuk hal itu? Orang yang lebih mampu, lebih pintar, lebih suci, lebih benar dalam banyak hal; orang sudah berusaha, sudah melakukan ini dan itu dengan jujur, tetapi semuanya seakan tidak dipedulikan Tuhan. Di sisi lain, teman / tetangga kita yang jelas-jelas malas, jahat dan suka konflik, hidup di bawah penderitaan orang lain dengan merampok dan mencuri, dengan menipu dan korupsi, hidup berkecukupan dan bermewah-mewah. Bahkan ada orang yang berjuang menyelesaikan studi dengan susah payah, dengan nilai yang luar biasa, tetapi akhirnya mendapat pekerjaan yang tidak sepadan; sebaliknya orang yang prestasi akademiknya pas-pasan justru terus mendapat promosi jabatan yang enak dan menyenangkan. Masih ada banyak contoh lain yang membuat kita kadang terheran-heran dengan warna-warni kehidupan ini.

Memang realita kehidupan yang kita jumpai kadang membuat kita bingung, apalagi kalau dihubungkan dengan keadilan dan rencana Tuhan dalam hidup manusia. Akal sehat manusia pun kadang sulit mencerna dan memahami.


Pendekatan: Ukuran Manusia Berbeda dengan Ukuran Tuhan

Matius Penginjil menulis realita ini dalam perumpamaan tentang “orang upahan dan kebun anggur”. Para pekerja upahan itu bekerja atas dasar kesepakatan, tetapi dengan jam yang berbeda-beda. Ketika tiba waktu pembagian upah, semua mereka menerima upah yang sama. Pekerja upahan yang datang lebih awal mengajukan protes keras. Sebenarnya kita bisa mengerti mengapa mereka protes. Sebab waktu kerja atau jam kerja tidak sama; rasanya tidak adil karena jam kerja mereka jauh lebih panjang dari mereka yang datang akhir. Walau demikian jawaban tuan yang mengupah mereka sangat mengejutkan “Irihatikah engkau, karena Aku murah hati?”

Jalan-jalan Tuhan jauh melampaui jalan-jalan manusia; pikiran-pikiran Tuhan jauh melampaui pikiran-pikiran manusia. Manusia cenderung mengatur segalanya dengan hukum dan peraturan, tetapi Allah justru dengan belas kasih dan kemurahan.

Kadang kita menghitung-hitung di hadapan Allah segala kebaikan yang telah kita lakukan, berapa banyak doa yang sudah kita daraskan, bahkan kita juga melaporkan kepada Tuhan bahwa kita sudah berjuang untuk tidak berdosa lagi; kemudian kita seolah-olah minta upah atau hak istimewa (= lebih) dari yang lain. Kalau tidak, kita kecewa dan marah pada Tuhan; kalau tidak, kita rasa Tuhan tidak adil pada kita. Kita sangat sering lupa akan satu hal yang utama, yakni siapa manusia itu di hadapan Tuhan hingga ia berani menuntut? Manusia diciptakan Tuhan dan ia berada di bawah kuasa dan rencana Tuhan.

“Rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalan-Ku bukanlah jalanmu,”; kata-kata Tuhan ini hendak mengajak manusia kembali kepada kesadaran awal:

Pertama, manusia diciptakan Tuhan maka penyerahan diri secara total kepada Allah adalah komitmen yang harus terus dibangun. Penyerahan diri secara total itu justru ketika manusia “mengurangi dominasi otak” atas pengalaman hidupnya dan belajar melihat dengan kacamata iman pengalaman keseharian itu.

Kedua, sering kali kita memiliki cara kita sendiri untuk menilai orang lain dan kadang penilaian itu justru membuat kita iri dan picik. Apalagi kalau penilaian itu dibungkus dengan sikap angkuh atau sombong.

Ketiga, sikap tepat dalam menghadapi “berkat dari Tuhan” (baik untuk diri maupun orang lain) adalah bersyukur. Iri hati akan mendatangkan kematian, apalagi tidak ada satu alasanpun yang membuat kita iri pada Tuhan. Tuhan menggunakan ukuran belas kasih dan kemurahan; sedangkan kita, ukuran apakah yang kita gunakan untuk iri hati? Selamat merenung.

Dikutip dari
YESAYA: www.indocell.net/yesaya
Pengirim : Marcel, Informatika 2001

No comments: