(Oleh : Sr. Maria Gertrudis, P.Karm.)
Waktu telah menunjukkan pukul 19:00, suasana di sebuah perkantoran telah sepi. Hanya beberapa karyawan terlihat masih sibuk menyelesaikan pekerjaan hariannya. Nadya termasuk di antara mereka yang masih berada di kantor. Tidak seperti biasanya, Nadya pulang kantor jauh malam, terlihat pula pada raut wajahnya garis-garis kesedihan bagaikan ada suatu beban yang ingin ditumpahkan. Namun, Nadya tak tahu kepada siapa ia harus menceritakan semuanya ini?
Tiba-tiba, handphonenya berbunyi. Dengan malas, diraihnya dan dilihat nama yang tertera dalam handphone itu. Ah.. sms dari Dodi. Tanpa membacanya terlebih dahulu, ia langsung menghapuskannya.
Apa yang menyebabkan Nadya berubah? Tak lain disebabkan peristiwa satu bulan lalu. Peristiwa yang takkan pernah dilupakan dalam kehidupannya, bisik hatinya. Tiba-tiba peristiwa itu kembali dalam ingatannya. Pertunjukkan yang batal ditampilkan oleh kelompok seni dramanya tanpa penjelasan. Pembatalan yang dilakukan oleh sepihak telah merusak persiapan dan kerja keras yang dilakukan berbulan-bulan. Nadya bertanya dalam hatinya: Siapakah yang tidak kecewa, kesal, sedih, marah atas peristiwa menyebalkan ini? Sungguh sebuah kekecewaan, kemarahan, kekesalan semuanya menjadi satu. Nadya merasa waktunya terbuang dengan sia-sia. Kini, ia memilih menutup dirinya dari segala macam kegiatan-kegiatan yang berkonotasi 'bersama'. Ia lebih suka menyendiri akhir-akhir ini.
Kisah di atas hanyalah sepenggal kisah kehidupan bersama yang mau tidak mau akan terjadi pada diri semua orang. Hal menyenangkan maupun hal tidak menyenangkan dapat datang silih berganti dalam peristiwa apapun. Dalam kisah di atas, Nadya mengalami hal yang tidak menyenangkan dan membuatnya mengalami kesedihan, kekecewaan, dan penderitaan lainnya akibat orang lain. Mungkin saja kekecewaan Nadya juga terjadi pada diri kita?
Secara manusiawi dalam kehidupan ini, kita kadang-kadang merasa letih, sedih, dan kecewa atas berbagai harapan kita yang tak terjadi. Akan tetapi, hendaknya kesedihan itu jangan sampai memudarkan pandangan mata kita untuk melihat terang cahaya di balik setiap peristiwa itu, bahkan terpuruk lebih dalam lagi. Kita perlu mengingat apa yang dikatakan oleh St. Paulus, "Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah." (Rm. 8:28) Lebih jauh lagi dalam kisah dua murid di jalan menuju Emaus. Kita melihat kesedihan mereka sampai berkata, "Kami dahulu mengharapkan, bahwa Dialah yang datang untuk membebaskan bangsa Israel. Akan tetapi sementara itu telah lewat tiga hari, sejak semuanya itu terjadi." (Luk. 24:21) Kristus melalui penampakan-Nya kepada kedua murid di jalan menuju Emaus, mengungkapkan dengan jelas bagaimana misteri kematian dan kehidupan, salib dan kebangkitan menjadi kunci harapan. Kehadiran-Nya yang penuh cinta mampu mengubah kesedihan dua murid di Emaus ini.
Jika kita menelaah lebih jauh lagi, episode dua murid di Emaus ini sebenarnya mengingatkan kita akan realitas yang menggembirakan dalam pengalaman hidup kita yakni tanda kehadiran Kristus yang bangkit dan tidak pernah berakhir dalam umat-Nya. Kehadiran itu menjadi hidup dan nyata di dalam dan di antara setiap pribadi, di dalam karya pelayanan, di dalam orang-orang miskin, di dalam apapun yang kita perbuat.
Inilah kunci untuk membuka pintu hal-hal yang tidak menyenangkan: keletihan, kesedihan, kekecewaan yaitu mengalami kasih yang hidup. Apakah yang tidak dapat diungkapkan dengan kasih? Dalam kasih, hati dapat berdamai dengan dirinya sendiri dan bersatu kembali dengan dirinya sendiri.
Pada saat hal-hal tidak menyenangkan terjadi, kita perlu mendengar kembali bahkan mengarisbawahi ungkapan dari seorang kudus besar abad ini yakni, St. Theresia dari Kanak-kanak Yesus. Ungkapan yang merupakan kekayaan hidup rohaninya, "Segala-galanya adalah rahmat, dimulai dari langkah pertama hingga akhirnya." Inilah kompas dalam perjalanan hidup St. Theresia dari Kanak-kanak Yesus. Kompas yang diungkapkan oleh St. Theresia dari Kanak-kanak Yesus ini, tak lain merupakan interprestasi dari sabda Yesus sendiri dalam perumpamaan pokok anggur dan ranting-ranting-Nya, "Di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa." (Yoh. 15:5)
Dalam suratnya kepada jemaat di Filipi, St. Paulus menegaskan, "Allahlah yang memberikan kepada kita baik kemauan maupun pekerjaan." (Bdk. Flp 2:13) Sekarang kita tahu bahwa tanpa rahmat Allah kita tidak dapat melakukan satu hal pun yang baik ataupun menghendaki yang baik untuk kita kerjakan.
Cinta dibangun oleh Sabda Yesus
Kita telah mengetahui bahwa untuk menghendaki yang baik kita memerlukan rahmat. Caranya dengan memohon kepada Allah untuk memberikan kepada kita rahmat itu. Salah satu rahmat yang kita butuhkan yaitu cinta. Cinta adalah perekat yang menyatukan berbagai kehidupan. Cinta bagaikan dasar dalam suatu bangunan. Apabila dasar itu tidak ada maka bangunan tersebut akan hancur (Bdk. Mat. 7:24-27). Iman kristiani menekankan kesatuan cinta Allah dan cinta sesama, dan kebutuhan yang sangat akan keduanya untuk menjadi bagian dari keberadaan kita.
Dasar cinta kristiani berpusat di dalam kesatuan dengan Kristus dan membawa semangat-Nya, "Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu. Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya." (Yoh. 15:12-13)
Cinta juga membutuhkan suatu komitmen yang teguh di mana kita berani memberikan waktu untuk mencintai Allah sebagai balasan atas kasih-Nya dalam doa, kegiatan rohani maupun sosial, dan sebagainya. Tepatlah apa yang dikatakan oleh Beata Teresa dari Kalkuta, "Karya-karya yang baik terkait satu sama lain hingga membentuk sebuah rantai cinta."
Sebagai murid Yesus, kita perlu mengikuti apa yang diteladankan oleh sang Guru. Inilah cinta yang dibangun oleh sabda Yesus, "Mencintai sebagaimana Yesus mencintai" berarti menyerahkan nyawa untuk sahabat-sahabat dan dengan penuh semangat mencintai mereka yang bukan sahabat (Bdk. Luk. 6:27-29).
Dipanggil untuk Hidup Bersama
Kenyataan hidup sehari-hari menunjukkan bahwa banyak persahabatan tidak bertahan lama, orang yang saling mencinta tidak dapat bertahan dalam hubungan cinta mereka, banyak keluarga hancur dan pecah, komunitas-komunitas tidak pernah bebas dari krisis-krisis hubungan antar anggota, alangkah rapuhnya hubungan antar manusia. Sebuah pertanyaan yang harusnya ada bagi kita sebagai murid Kristus yang dipanggil untuk hidup bersama, "Apa artinya mencintai orang lain?"
Orang akan sulit untuk mendefinisikan arti cinta sesungguhnya. Sebabnya dalam dunia ini betapa sulitnya menemukan cinta yang sesungguhnya. Ungkapan yang seringkali kita dengar, "Mencintai adalah pekerjaan berat!" Dalam masyarakat kita, cinta dinyanyikan, ditulis menjadi sebuah kisah, dibicarakan sebagai cita-cita indah yang didambakan semua orang. Kita hanya dapat mengartikan cinta merupakan suatu tindakan atau perbuatan dan bukannya suatu perasaan. Hal ini berarti, seandainya kita mencintai sekaligus menghendaki kebaikan orang yang kita cintai.
"Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita." (1Yoh. 4:19) Karena Allah lebih dahulu mengasihi kita, maka kita dijadikan mampu untuk mengasihi. Oleh karena itu segala sesuatu dapat kita lakukan dalam kasih. Allah mencintai kita dengan kasih yang tanpa batas. Allah juga memanggil kita untuk menjadi saksi akan cinta-Nya. Mencintai berarti mewujudkan cinta Allah yang tanpa batas, dalam persatuan hidup dengan orang lain.
Salah satu sisi paling indah hidup bersama ialah bahwa di dalamnya selalu terjadi tindakan memberi dan menerima. Setiap orang yang sudah benar-benar menghayati hidup bersama akan berkata, "Saya menerima sama banyak dengan yang saya berikan."
Bila segala sesuatu kita lakukan dalam kasih dan dengan kasih, semuanya mendapatkan nilai keabadian dan berkenan kepada Allah. St. Theresia dari Kanak-kanak Yesus mengatakan, "Apabila kita hanya memungut sebatang jarum yang jatuh saja, tetapi dengan kasih, itu sudah mendapat nilai keabadian."
Menjadi Saksi Cinta Allah yang Hidup
Semua relasi manusiawi, entah antara orang tua dengan anak, suami dengan istri, antar sahabat, antar warga komunitas, semestinya menjadi tanda cinta Allah kepada umat manusia. Yesus berkata, "Sama seperti Aku telah mengasihi kamu, demikian pula kamu harus saling mengasihi. Dengan demikian, semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi." (Yoh. 13:34-35) Bagaimana Yesus mencintai kita? Yesus berkata, "Seperti Bapa mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu." (Yoh. 15:9) Cinta Yesus kepada kita adalah wujud utuh cinta Allah kepada kita, karena Yesus dan Bapa adalah satu. Ia berkata, "Apa yang Aku katakan kepadamu, tidak Aku katakan dari diri-Ku sendiri, tetapi Bapa yang diam di dalam Aku, Dialah yang melakukan pekerjaan-Nya. Percayalah kepada-Ku, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku." (Yoh. 14:10-11)
Di sini, Yesus mau menyatakan bahwa kita dipanggil oleh Allah untuk menjadi saksi hidup bagi kasih Allah. Kita menjadi saksi seperti itu dengan mengikuti Yesus dan saling mengasihi, seperti Ia mengasihi kita. Ibu Teresa dari Kalkuta merupakan salah satu contoh dalam zaman kita yang melaksanakan cinta secara heroik. Dalam seluruh hidupnya, Ibu Teresa dari Kalkuta mengabdikan untuk melayani orang-orang yang paling miskin di antara yang miskin. Ia mengatakan: "Tuhan selalu memberi perhatian terhadap cinta kita. Sesungguhnya tidak seorang pun dari antara kita yang dikecualikan. Tuhan memiliki cara tersendiri untuk melakukan segalanya dan untuk membinasakan apa pun hasil kemampuan manusia yang tertinggi. Kita bisa saja bekerja sampai suatu saat kita tidak sanggup lagi. Kita juga dapat bekerja hingga berlebihan. Namun, bila yang kita lakukan itu tidak dikaitkan dengan cinta, maka seluruh pekerjaan kita tidak akan berguna di mata Tuhan."
Cinta di dalam Penderitaan
Mencintai berarti menuju persatuan, mengarah, dan memperbanyak usaha untuk bersatu dengan yang dicintai melalui tindakan memberikan diri, menyangkal diri supaya tidak ada sesuatupun yang menghalangi untuk mencintai. Maka, mencintai menuntut suatu pengurbanan! Pengurbanan ini dapat berupa hal menyenangkan maupun hal tidak menyenangkan, misalnya penderitaan, kecewa, sedih, malu, dan sebagainya. Bagi seseorang yang mencintai penderitaan yang dialami adalah madu yang manis untuk sampai kepada persatuan cintakasih yang sempurna.
St. Yohanes dari Salib mengatakan, "Kasih yang sejati berarti mau menjadi serupa dengan yang dikasihi. Karena yang dikasihi itu sekaligus adalah yang disalibkan, maka mereka pun tidak lepas dari salib." St. Paulus mengatakan hal yang senada: "Semuanya itu kuanggap sebagai sampah demi Yesus Kristus. Yang kukehendaki adalah mengenal penderitaan-Nya dan kuasa kebangkitan-Nya, untuk menggenapkan apa yang kurang dari penderitaan Kristus." (Lih. Flp. 3:8, 10; Kol. 1:24)
Jelaslah bahwa cinta terkait dengan eratnya bahkan tidak terlepas dari penderitaan. Inilah risiko yang harus diambil bagi orang yang mencintai, bukan demi penderitaan itu sendiri melainkan kita telah diperkenankan untuk ambil bagian di dalam penderitaan Kristus.
PENUTUP
Kiranya jelas bahwa dalam hidup ini kita akan selalu dihadapkan pada 2 hal, yaitu hal menyenangkan yang mendatangkan sukacita dan kegembiraan, dan hal yang tidak menyenangkan yang mendatangkan penderitaan. Pada kisah di atas, kegagalan membuat Nadya takut untuk melangkah. Sebagai seorang kristen sejati, kita dituntut untuk berani bangkit dari setiap penderitaan dan bukannya terpuruk. Baik kita mendengarkan ungkapan yang seringkali kita dengar, "Kegagalan merupakan sebuah rahmat yang tertunda". St. Paulus mengatakan, "Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan." (Rm. 12:11)
Setiap penderitaan jika disatukan dengan salib Kristus memiliki arti lebih bagi keselamatan jiwa kita. Marilah bersama-sama, kita meletakkan seluruh dasar bangunan dalam pelayanan apapun yang kita kerjakan dengan semangat cinta, sambil tak lupa mengucap syukur atas apa yang Dia percayakan untuk kita lakukan. "Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita." (Kol. 3:17)
Sharing :
* Bagaimana sikap Anda jika suatu saat ada peristiwa yang tidak menyenangkan terjadi pada diri Anda? Apa yang biasanya Anda lakukan? Lebih-lebih jika itu berkaitan dengan sesama yang mengecewakan hati Anda? Sharingkanlah pengalaman Anda dalam sel
* Mencintai berarti mau berkurban. Bagaimana Anda menghayati hal mencintai ini? Sudahkah Anda mencintai dengan hati tulus dan tanpa mengharapkan sesuatu? Sharingkanlah pengalaman Anda dalam usaha mencintai seperti Yesus.
diambil dari http://www.holytrinitycarmel.com/f/r.php?d=321
Bagi teman-teman yang mau mengisi blog harap kirimkan artikel tersebut melalui email ke kmk_st_petrus@yahoo.com.
Peraturan dalam mengirim artikel:
1. Pada saat mengirim artikel harap cantumkan nama dan jurusan teman-teman, misal : marcel,informatika 2001
2. Harap dicantumkan juga pengarang asli artikel yang dikirim untuk menghormati hak cipta pembuat artikelnya.
Artikel yang dipasang di blog adalah artikel yang memenuhi kedua syarat diatas.Terima kasih.
Tuesday, February 17, 2009
Kasih Sang Bapa
(Luk. 15:20b-24 ; 28b,31-32)
(Oleh : Sr. Maria Petra, P.Karm)
A. PENGANTAR
Kisah ini sangat dramatis : "…ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihat dia ( si anak bungsu), lalu tergeraklah hati-Nya oleh belaskasihan. Ayahnya itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia"…."lalu ayahnya keluar dan berbicara dengan dia ( si sulung), dan memintanya untuk masuk..."
Seorang bapa yang menyambut anaknya yang pulang kembali ke rumah, membungkuk, merangkulnya dalam pelukannya yang memberi kehangatan, mendekapnya, membawanya kembali ke dalam kerahiman yang tiada batasnya. Inilah rahasia cinta Allah.
Dengan bebas Ia telah memilih untuk menggantungkan diri kepada ciptaan-Nya yang telah dianugerahinya dengan kebebasan. Pilihan ini menjadi kepedihan, ketika ciptaan (mereka), pergi meninggalkannya. Pilihan ini juga membawa kegembiraan ketika mereka pulang. Akan tetapi kegembiraan ini tidak sempurna sebelum semua (si anak sulung) yang telah menerima kehidupan dari-Nya kembali masuk ke dalam rumah dan berkumpul mengelilingi meja perjamuan yang telah dipersiapkan untuk mereka.
B. TANGGAPAN SANG BAPA
1. Bagi Allah Tak ada kata "lebih" atau "kurang"
Tanggapan sang Bapa yang bebas dan spontan karena kembalinya si anak bungsu sama sekali tidak membandingkannya dengan si anak sulung. Sebaliknya dia sangat menginginkan si anak sulung menjadi bagian dari kegembiraan-Nya. Demikian juga Allah Bapa kita tidak pernah membanding-bandingkan kita. Allah menerima, melihat, dan mencintai dengan cinta Ilahi, cinta yang memberi tempat istimewa kepada setiap manusia, pria dan wanita.
Inilah rahasia panggilan Bapa kepada kita, yaitu supaya kita juga mampu memandang dunia dengan mata kasih Allah; yaitu pandangan seorang Bapa yang memberi, mengampuni tanpa pernah memperhitungkan baik-buruk tindakan sesama. Untuk itu kita perlu memiliki satu mata, yaitu "mata hati Allah'.
2. Hati Sang Bapa
Hati Sang Bapa selalu terarah kepada kedua anaknya; Ia mencintai keduanya dan berharap dapat menyaksikan keduanya mengelilingi meja perjamuan sebagai saudara. Ia menginginkan keduanya merasakan bahwa mereka milik keluarga yang sama dan anak-anak dari Bapa yang sama, meskipun keduanya berbeda satu sama lain.
Dalam kisah Lukas ini kita melihat dengan jelas hati seorang Bapa, yang mengasihi dengan "cinta pertama" cinta tanpa batas dan syarat. Inilah yang menjadi rahasia iman kita. Allah yang mengasihi kita sebelum seorang manusia dapat menunjukkan kasih kepada kita. Dia menginginkan kita menjadi anak-anak-Nya yang terkasih dan mengajari kita untuk mencintai sebagaimana Dia mencintai kita.
Karena kasih Allah yang tiada batas, Dia telah melukiskan kita di telapak tangan-Nya (Yes. 49:16). Allah mencintai kita dengan cinta pertama, dan untuk selama-lamanya. Seperti yang telah diteladankan oleh Yesus Putera-Nya. Yesus datang untuk menyatakan cinta Bapa yang tak terbatas, serta menunjukkan jalan untuk membiarkan cinta itu membimbing setiap bagian harian hidup kita.
3. Kita dipanggil untuk menjadi sempurna, sama seperti Bapa
Dalam Injil Lukas dikatakan : "...lekaslah bawa kemari....." Sang Bapa mendahului permohonan anaknya dengan pengampunan yang spontan dan menjadikan permohonan itu tidak mempunyai arti dibandingkan dengan kegembiraan karena kepulangan anaknya. Lebih dari itu sang Bapa ingin memberikan kehidupan kepada anaknya; memberikan yang terbaik, jubah kehormatan, cincin, dan sepatu. Sang anak bukan lagi upahan (budak), melainkan sebagai anak yang terkasih. Dengan demikian Bapa memulihkan kembali keputraannya sebagai ahli waris.
Kini kita pun sebagai anak-anak Allah; ahli waris kerajaan-Nya, telah didandani dengan tanda kemerdekaan sebagai anak-anak Allah. Dia tidak ingin seorang pun dari kita menjadi anak upahan atau budak. Dia ingin kita mengenakan jubah kehormatan, cincin ahli waris, dan sepatu kemuliaan. Inilah kepenuhan tahun rahmat Tuhan bagi kita. Allah yang menderita karena cinta-Nya yang besar kepada anak-anak-Nya, Allah yang begitu kaya akan kebaikan dan belaskasih ingin menyatakan kekayaan kemuliaan-Nya kepada kita semua.
Kita dipanggil untuk menyatakan bahwa kita adalah anak dari seorang bapa yang murah hati dan belaskasih. Kita adalah ahli waris, dan sebagai ahli waris kita harus melangkah masuk ke tempat Bapa dan menawarkan kepada sesama kemurahan hati dan belaskasih, sama seperti yang telah ditunjukkan Bapa kepada kita.
Menjadi serupa dengan sang Bapa surgawi, membawa konsekuensi dalam hidup harian kita; bahwa kita harus meninggalkan hukum dunia yang penuh persaingan; mencintai sama seperti Allah mencintai. Inilah inti pesan Injil, bahwa manusia dipanggil untuk saling mencintai, sama seperti yang dilakukan Allah. Kita semua dipanggil untuk saling mencintai satu sama lain dengan cinta yang tanpa pamrih. Kemurahan hati itu juga adalah kemurahan hati yang mutlak, sehingga jejak-jejak persaingan tidak lagi ditemukan. Ini dibutuhkan suatu sikap yang radikal, sehingga musuhpun harus dicintai. Dengan demikian kita tidak hanya diterima oleh Allah, tetapi juga harus menerima seperti Allah. Kita harus menjadi seperti Bapa surgawi dan melihat dunia dengan sudut pandang-Nya.
Ada tiga jalan yang dapat membawa kita menjadi seperti Bapa yang murah hati dan belaskasih :
a. Jalan dukacita
Dukacita merupakan jalan untuk kembali dalam kemurahan hati dan belaskasih. Dukacita memaksa kita untuk membiarkan dosa-dosa dunia dan dosa masing-masing menembus hati dan membuat kita mengalirkan air mata. Tak ada belaskasih tanpa cucuran air mata. Jika tidak ada air mata yang mengalir dari mata kita setidak-tidaknya ada air mata yang mengalir dari hati.
Saat kita membayangkan dosa dunia (anak-anak Allah), nafsu neraka, ketamakan, kekejaman, kemarahan, rasa dendam, dan melihat hal itu dengan mata hati Allah, kita hanya menangis dengan duka cita. Itulah sebabnya dukacita di sini merupakan ungkapan doa kita, ratapan penyesalan yang membawa air mata karena melihat begitu banyak dosa dunia.
2. Jalan Pengampunan
Mengampuni tiada henti sama seperti Bapa. Sebab pengampunan Allah itu tidak bersyarat, pengampunan yang muncul dari hati yang tidak pernah menuntut apa pun untuk dirinya. Sebuah hati yang sungguh-sungguh bebas dari pencarian diri. Inilah pengampunan Ilahi yang perlu kita laksanakan dalam kehidupan sehari-hari, inilah pengampunan yang memanggil kita untuk melepaskan semua pandangan yang keliru selama ini. Pengampunan yang menuntut kita untuk mengatasi hati yang terluka karena ketidakadilan, hati yang ingin menguasai, dan menuntut beberapa syarat dari orang yang kita ampuni.
3. Jalan Kemurahan Hati
Sang Bapa tidak hanya memberikan kepada anaknya yang menuntut bagian warisan dan pergi ke negeri yan jauh, tetapi ia juga melimpahinya dengan banyak anugerah ketika anak-anaknya pulang. Dan kepada si anak sulung ia berkata: "segala kepunyaan-Ku adalah kepunyaanmu." Tidak ada yang disimpan Bapa untuk dirinya. Dia melimpahi segalanya untuk kedua anaknya. Bagi sang Bapa kedua anaknya adalah segala-galanya. Ia ingin mencurahkan seluruh hidupnya.
Kepada si bungsu dianugerahkan cincin, jubah, sepatu serta disambut dengan pesta yang mewah. Sementara si sulung didesak untuk menerima tempatnya yang istimewa dalam hati Bapa, dan diajak bergabung dengan adiknya mengelilingi meja perjamuan.
Inilah gambaran dari Allah Bapa kita, dengan kebaikan, cinta, pengampuan, perhatian, kegembiraan, dan belaskasih tanpa batas. Gambaran ini jelas sekali dalam diri Putera-Nya Yesus yang menghadirkan kemurahan hati Allah. "Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang menyerahkan nyawa-Nya bagi sahabat-sahabatnya..." (Yoh. 15:13)
Inilah pemberian diri Bapa dalam Yesus Putera-Nya. Pemberian diri ini merupakan disiplin, karena hal ini tidak muncul begitu saja secara spontan. Sebagai anak yang dikuasai oleh kegelapan, yang memerintah melalui ketakutan, kepentingan diri dan ketamakan dan kekuasaan. Motivasi kita yang terkuat adalah mempertahankan dan melindungi diri. Akan tetapi sebagai anak-anak terang yang mengetahui bahwa cinta yang sempurna menyingkirkan segala ketakutan memungkinkan kita memberikan segala yang kita miliki kepada sesama, setiap kali kita melangkah ke arah sikap murah hati, kita tahu bahwa kita beralih dari ketakutan kepada cinta.
Maka dukacita, pengampunan, dan kemurahan hati adalah tiga jalan yang memungkinkan gambaran Bapa tumbuh dalam diri kita. Tiga jalan itu adalah tiga sisi dari panggilan Bapa untuk tinggal di rumah; untuk berani percaya bahwa kegembiraan dan kepenuhan sejati hanya dapat diperoleh dengan menyambut mereka yang sakit, menderita, terluka dalam perjalanan hidup mereka dengan mencintai mereka dengan cinta yang sama sekali tidak mengharap imbalan. >
Sharing :
* Bapa yang penuh kasih tak mengingat lagi perbuatan dosa anaknya di masa lampau. Bagaimana dengan Anda sendiri, masihkah Anda selalu mengungkit kesalahan sesama terlebih jika sesama itu menyakiti Anda? Sudahkah Anda memberikan kasih dan pengampunan yang tulus kepada mereka? Sharingkanlah pengalaman Anda tersebut
* Sebaliknya apa yang akan Anda lakukan jika Anda berada dalam posisi si anak bungsu yang telah berbuat kesalahan terhadap bapanya? Beranikah Anda datang dan menyerahkan diri kepada bapa? Bagaimana Anda percaya bahwa bapa tidak akan menolak Anda? Sharingkanlah pendapat Anda dalam sel
diambil dari http://www.holytrinitycarmel.com/f/r.php?d=318
(Oleh : Sr. Maria Petra, P.Karm)
A. PENGANTAR
Kisah ini sangat dramatis : "…ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihat dia ( si anak bungsu), lalu tergeraklah hati-Nya oleh belaskasihan. Ayahnya itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia"…."lalu ayahnya keluar dan berbicara dengan dia ( si sulung), dan memintanya untuk masuk..."
Seorang bapa yang menyambut anaknya yang pulang kembali ke rumah, membungkuk, merangkulnya dalam pelukannya yang memberi kehangatan, mendekapnya, membawanya kembali ke dalam kerahiman yang tiada batasnya. Inilah rahasia cinta Allah.
Dengan bebas Ia telah memilih untuk menggantungkan diri kepada ciptaan-Nya yang telah dianugerahinya dengan kebebasan. Pilihan ini menjadi kepedihan, ketika ciptaan (mereka), pergi meninggalkannya. Pilihan ini juga membawa kegembiraan ketika mereka pulang. Akan tetapi kegembiraan ini tidak sempurna sebelum semua (si anak sulung) yang telah menerima kehidupan dari-Nya kembali masuk ke dalam rumah dan berkumpul mengelilingi meja perjamuan yang telah dipersiapkan untuk mereka.
B. TANGGAPAN SANG BAPA
1. Bagi Allah Tak ada kata "lebih" atau "kurang"
Tanggapan sang Bapa yang bebas dan spontan karena kembalinya si anak bungsu sama sekali tidak membandingkannya dengan si anak sulung. Sebaliknya dia sangat menginginkan si anak sulung menjadi bagian dari kegembiraan-Nya. Demikian juga Allah Bapa kita tidak pernah membanding-bandingkan kita. Allah menerima, melihat, dan mencintai dengan cinta Ilahi, cinta yang memberi tempat istimewa kepada setiap manusia, pria dan wanita.
Inilah rahasia panggilan Bapa kepada kita, yaitu supaya kita juga mampu memandang dunia dengan mata kasih Allah; yaitu pandangan seorang Bapa yang memberi, mengampuni tanpa pernah memperhitungkan baik-buruk tindakan sesama. Untuk itu kita perlu memiliki satu mata, yaitu "mata hati Allah'.
2. Hati Sang Bapa
Hati Sang Bapa selalu terarah kepada kedua anaknya; Ia mencintai keduanya dan berharap dapat menyaksikan keduanya mengelilingi meja perjamuan sebagai saudara. Ia menginginkan keduanya merasakan bahwa mereka milik keluarga yang sama dan anak-anak dari Bapa yang sama, meskipun keduanya berbeda satu sama lain.
Dalam kisah Lukas ini kita melihat dengan jelas hati seorang Bapa, yang mengasihi dengan "cinta pertama" cinta tanpa batas dan syarat. Inilah yang menjadi rahasia iman kita. Allah yang mengasihi kita sebelum seorang manusia dapat menunjukkan kasih kepada kita. Dia menginginkan kita menjadi anak-anak-Nya yang terkasih dan mengajari kita untuk mencintai sebagaimana Dia mencintai kita.
Karena kasih Allah yang tiada batas, Dia telah melukiskan kita di telapak tangan-Nya (Yes. 49:16). Allah mencintai kita dengan cinta pertama, dan untuk selama-lamanya. Seperti yang telah diteladankan oleh Yesus Putera-Nya. Yesus datang untuk menyatakan cinta Bapa yang tak terbatas, serta menunjukkan jalan untuk membiarkan cinta itu membimbing setiap bagian harian hidup kita.
3. Kita dipanggil untuk menjadi sempurna, sama seperti Bapa
Dalam Injil Lukas dikatakan : "...lekaslah bawa kemari....." Sang Bapa mendahului permohonan anaknya dengan pengampunan yang spontan dan menjadikan permohonan itu tidak mempunyai arti dibandingkan dengan kegembiraan karena kepulangan anaknya. Lebih dari itu sang Bapa ingin memberikan kehidupan kepada anaknya; memberikan yang terbaik, jubah kehormatan, cincin, dan sepatu. Sang anak bukan lagi upahan (budak), melainkan sebagai anak yang terkasih. Dengan demikian Bapa memulihkan kembali keputraannya sebagai ahli waris.
Kini kita pun sebagai anak-anak Allah; ahli waris kerajaan-Nya, telah didandani dengan tanda kemerdekaan sebagai anak-anak Allah. Dia tidak ingin seorang pun dari kita menjadi anak upahan atau budak. Dia ingin kita mengenakan jubah kehormatan, cincin ahli waris, dan sepatu kemuliaan. Inilah kepenuhan tahun rahmat Tuhan bagi kita. Allah yang menderita karena cinta-Nya yang besar kepada anak-anak-Nya, Allah yang begitu kaya akan kebaikan dan belaskasih ingin menyatakan kekayaan kemuliaan-Nya kepada kita semua.
Kita dipanggil untuk menyatakan bahwa kita adalah anak dari seorang bapa yang murah hati dan belaskasih. Kita adalah ahli waris, dan sebagai ahli waris kita harus melangkah masuk ke tempat Bapa dan menawarkan kepada sesama kemurahan hati dan belaskasih, sama seperti yang telah ditunjukkan Bapa kepada kita.
Menjadi serupa dengan sang Bapa surgawi, membawa konsekuensi dalam hidup harian kita; bahwa kita harus meninggalkan hukum dunia yang penuh persaingan; mencintai sama seperti Allah mencintai. Inilah inti pesan Injil, bahwa manusia dipanggil untuk saling mencintai, sama seperti yang dilakukan Allah. Kita semua dipanggil untuk saling mencintai satu sama lain dengan cinta yang tanpa pamrih. Kemurahan hati itu juga adalah kemurahan hati yang mutlak, sehingga jejak-jejak persaingan tidak lagi ditemukan. Ini dibutuhkan suatu sikap yang radikal, sehingga musuhpun harus dicintai. Dengan demikian kita tidak hanya diterima oleh Allah, tetapi juga harus menerima seperti Allah. Kita harus menjadi seperti Bapa surgawi dan melihat dunia dengan sudut pandang-Nya.
Ada tiga jalan yang dapat membawa kita menjadi seperti Bapa yang murah hati dan belaskasih :
a. Jalan dukacita
Dukacita merupakan jalan untuk kembali dalam kemurahan hati dan belaskasih. Dukacita memaksa kita untuk membiarkan dosa-dosa dunia dan dosa masing-masing menembus hati dan membuat kita mengalirkan air mata. Tak ada belaskasih tanpa cucuran air mata. Jika tidak ada air mata yang mengalir dari mata kita setidak-tidaknya ada air mata yang mengalir dari hati.
Saat kita membayangkan dosa dunia (anak-anak Allah), nafsu neraka, ketamakan, kekejaman, kemarahan, rasa dendam, dan melihat hal itu dengan mata hati Allah, kita hanya menangis dengan duka cita. Itulah sebabnya dukacita di sini merupakan ungkapan doa kita, ratapan penyesalan yang membawa air mata karena melihat begitu banyak dosa dunia.
2. Jalan Pengampunan
Mengampuni tiada henti sama seperti Bapa. Sebab pengampunan Allah itu tidak bersyarat, pengampunan yang muncul dari hati yang tidak pernah menuntut apa pun untuk dirinya. Sebuah hati yang sungguh-sungguh bebas dari pencarian diri. Inilah pengampunan Ilahi yang perlu kita laksanakan dalam kehidupan sehari-hari, inilah pengampunan yang memanggil kita untuk melepaskan semua pandangan yang keliru selama ini. Pengampunan yang menuntut kita untuk mengatasi hati yang terluka karena ketidakadilan, hati yang ingin menguasai, dan menuntut beberapa syarat dari orang yang kita ampuni.
3. Jalan Kemurahan Hati
Sang Bapa tidak hanya memberikan kepada anaknya yang menuntut bagian warisan dan pergi ke negeri yan jauh, tetapi ia juga melimpahinya dengan banyak anugerah ketika anak-anaknya pulang. Dan kepada si anak sulung ia berkata: "segala kepunyaan-Ku adalah kepunyaanmu." Tidak ada yang disimpan Bapa untuk dirinya. Dia melimpahi segalanya untuk kedua anaknya. Bagi sang Bapa kedua anaknya adalah segala-galanya. Ia ingin mencurahkan seluruh hidupnya.
Kepada si bungsu dianugerahkan cincin, jubah, sepatu serta disambut dengan pesta yang mewah. Sementara si sulung didesak untuk menerima tempatnya yang istimewa dalam hati Bapa, dan diajak bergabung dengan adiknya mengelilingi meja perjamuan.
Inilah gambaran dari Allah Bapa kita, dengan kebaikan, cinta, pengampuan, perhatian, kegembiraan, dan belaskasih tanpa batas. Gambaran ini jelas sekali dalam diri Putera-Nya Yesus yang menghadirkan kemurahan hati Allah. "Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang menyerahkan nyawa-Nya bagi sahabat-sahabatnya..." (Yoh. 15:13)
Inilah pemberian diri Bapa dalam Yesus Putera-Nya. Pemberian diri ini merupakan disiplin, karena hal ini tidak muncul begitu saja secara spontan. Sebagai anak yang dikuasai oleh kegelapan, yang memerintah melalui ketakutan, kepentingan diri dan ketamakan dan kekuasaan. Motivasi kita yang terkuat adalah mempertahankan dan melindungi diri. Akan tetapi sebagai anak-anak terang yang mengetahui bahwa cinta yang sempurna menyingkirkan segala ketakutan memungkinkan kita memberikan segala yang kita miliki kepada sesama, setiap kali kita melangkah ke arah sikap murah hati, kita tahu bahwa kita beralih dari ketakutan kepada cinta.
Maka dukacita, pengampunan, dan kemurahan hati adalah tiga jalan yang memungkinkan gambaran Bapa tumbuh dalam diri kita. Tiga jalan itu adalah tiga sisi dari panggilan Bapa untuk tinggal di rumah; untuk berani percaya bahwa kegembiraan dan kepenuhan sejati hanya dapat diperoleh dengan menyambut mereka yang sakit, menderita, terluka dalam perjalanan hidup mereka dengan mencintai mereka dengan cinta yang sama sekali tidak mengharap imbalan. >
Sharing :
* Bapa yang penuh kasih tak mengingat lagi perbuatan dosa anaknya di masa lampau. Bagaimana dengan Anda sendiri, masihkah Anda selalu mengungkit kesalahan sesama terlebih jika sesama itu menyakiti Anda? Sudahkah Anda memberikan kasih dan pengampunan yang tulus kepada mereka? Sharingkanlah pengalaman Anda tersebut
* Sebaliknya apa yang akan Anda lakukan jika Anda berada dalam posisi si anak bungsu yang telah berbuat kesalahan terhadap bapanya? Beranikah Anda datang dan menyerahkan diri kepada bapa? Bagaimana Anda percaya bahwa bapa tidak akan menolak Anda? Sharingkanlah pendapat Anda dalam sel
diambil dari http://www.holytrinitycarmel.com/f/r.php?d=318
Sunday, February 15, 2009
KONVENAS MUDA-MUDI ke-III THE RENEWAL IS YOU
Jika ada yang bertanya, gimana Konvenasnya di Bali? Selalu jawabannya satu yang saya berikan. Yaitu, “dahsyat!!.” Konvenas tahun ini yang berlangsung di Denpasar Bali dari tanggal 13-16 November sungguh merupakan pengalaman yang sangat mengesankan bagi kami semua peserta konvenas dari berbagai provinsi di nusantara ini. Pengalaman yang membuat kami tak kan melupakan pada saat anak-anak muda Katolik di Indonesia merasakan kehadiran Tuhan masuk dalam setiap pribadi dan memberikan semangat yang baru dalam pelayanannya masing-masing.
Dalam konvenas kali ini, peserta dari surabaya mencapai 35 orang dari berbagai komunitas yang ada di Surabaya. Untuk perjalanan ke pulau Bali kami membagi rombongan menjadi dua kelompok besar. Yang berangkat dari 2 tempat yang berbeda. Kami menggunakan mobil sebagai sarana transportasi untuk perjalanan ini. Waktu yang di perlukan dari Surabaya sampai ke Denpasar kami tempuh dalam waktu ± 10 Jam. 10 jam merupakan waktu yang cukup panjang dan melelahkan untuk perjalanan ini tapi kami tetap semangat karena selalu menantikan Denpasar tempat konvenas berlangsung.
Hari I
Sesampainya di Hotel Grand Santhi tempat pelaksanaan konvenas ini, kami mendapatkan sambutan yang ramah dari para panitia yang membuat rasa capek kami sedikit terangkat. Setelah sambutan yang menyejukkan ini kami harus mengadakan gladi bersih untuk acara pembukaan konvenas pada sore harinya dikarenakan penanggung jawab acara pembukaan konvenas diserahkan kepada perwakilan dari Surabaya.
Pada acara pembukaan dimulai dengan puji-pujian kemudian dilanjutkan dengan misa pembukaan. Misa pembukaan ini dibawakan dengan meriah oleh 7 orang romo dari berbagai daerah di Indonesia. Setelah misa berakhir dilanjutkan dengan makan malam dan ceramah umum yang dibawakan oleh Bpk Joseph Tedjaindra. Kemudian acara hari pertama ditutup dengan doa syafaat bersama.
Hari II
Hari kedua kami dimulai pukul setengah 8 pagi dengan misa Ekaristi yang dibawakan oleh uskup Surabaya. Kemudian dilanjutkan dengan ceramah umum yang dibawakan oleh Collin Calmiano (India) dan Mgr. Vincentius Sutikno. Dalam ceramah yang diberikan oleh Mgr, kita diingatkan kembali agar jangan menjadi ‘orang asing’ di ‘rumah sendiri’. Ini dikatakan dikarenakan beliau melihat bahwa kadang kala umat karismatik Katolik melupakan ajaran-ajaran Katolik itu sendiri.
Berikutnya saat kami harus memasuki kelas-kelas pilihan yang telah kami tentukan pada hari sebelumnya. Ada 4 pilihan kelas yang ada, yaitu: kelas praise & worship, kelas team building, kelas pewarta, dan kelas leadership.
Hari III
Hari ini dimulai sama seperti hari kedua yakni dimulai dengan misa kudus dan dilanjutkan dengan 2 ceramah umum yang dibawakan oleh Bpk Arwianto dan Rm Adrian. Setelah itu lalu dilanjutkan dengan kelas-kelas kecil pada siang dan sore hari. Untuk malamnya kami mengadakan KRK bersama yang dipimpin oleh tim dari Jakarta. KRK ini sungguh hal yang paling berkesan selama saya mengikuti konvenas selama beberapa hari ini. Bagaimana tidak, setiap orang terlihat seperti kepenuhan Roh Kudus. Begitu semarak acara KRK ini sampai-sampai semua orang dalam ruangan ikut memuji, menari, berlompat bahkan berlari. Perasaan capek selama mengikuti konvenas yang super padat ini seakan tidak diperdulikan oleh para peserta, yang terus meminta agar KRK jangan diberhentikan walau jam sudah menunjukan tengah malam. Tapi akhirnya KRK malam itu harus selesai karena panitia dan peserta harus beristirahat untuk mempersiapkan konvenas pada hari terakhir besoknya.
Hari IV
Hari ini merupakan hari terakhir konvenas, hari dimana kita harus menyelesaikan semua pembekalan kita sehingga siap untuk kembali pada tiap-tiap keuskupan dimana kita melayani. Pada hari ini terdapat sesi final pada masing-masing kelas kecil. Untuk kelas pewarta para peserta diminta satu-persatu maju untuk latihan mewartakan didepan kelas. Setelah itu acara ini ditutup dengan misa penutup dan pengumuman kota tuan rumah konvenas berikutnya, yakni SURABAYA. Ya, Surabaya yang akan menjadi tuan rumah konvenas berikutnya pada tahun 2010 nanti. Akhirnya acara yang paling terakhir tiba, apalagi kalu bukan foto-foto yang luar biasa sulit diatur, tukar alamat email dan nomor handphone… serta ditambah ucapan: sampai jumpa di konvenas berikutnya di Surabaya
Penulis: Alex, Teknik Sipil 2004
Dalam konvenas kali ini, peserta dari surabaya mencapai 35 orang dari berbagai komunitas yang ada di Surabaya. Untuk perjalanan ke pulau Bali kami membagi rombongan menjadi dua kelompok besar. Yang berangkat dari 2 tempat yang berbeda. Kami menggunakan mobil sebagai sarana transportasi untuk perjalanan ini. Waktu yang di perlukan dari Surabaya sampai ke Denpasar kami tempuh dalam waktu ± 10 Jam. 10 jam merupakan waktu yang cukup panjang dan melelahkan untuk perjalanan ini tapi kami tetap semangat karena selalu menantikan Denpasar tempat konvenas berlangsung.
Hari I
Sesampainya di Hotel Grand Santhi tempat pelaksanaan konvenas ini, kami mendapatkan sambutan yang ramah dari para panitia yang membuat rasa capek kami sedikit terangkat. Setelah sambutan yang menyejukkan ini kami harus mengadakan gladi bersih untuk acara pembukaan konvenas pada sore harinya dikarenakan penanggung jawab acara pembukaan konvenas diserahkan kepada perwakilan dari Surabaya.
Pada acara pembukaan dimulai dengan puji-pujian kemudian dilanjutkan dengan misa pembukaan. Misa pembukaan ini dibawakan dengan meriah oleh 7 orang romo dari berbagai daerah di Indonesia. Setelah misa berakhir dilanjutkan dengan makan malam dan ceramah umum yang dibawakan oleh Bpk Joseph Tedjaindra. Kemudian acara hari pertama ditutup dengan doa syafaat bersama.
Hari II
Hari kedua kami dimulai pukul setengah 8 pagi dengan misa Ekaristi yang dibawakan oleh uskup Surabaya. Kemudian dilanjutkan dengan ceramah umum yang dibawakan oleh Collin Calmiano (India) dan Mgr. Vincentius Sutikno. Dalam ceramah yang diberikan oleh Mgr, kita diingatkan kembali agar jangan menjadi ‘orang asing’ di ‘rumah sendiri’. Ini dikatakan dikarenakan beliau melihat bahwa kadang kala umat karismatik Katolik melupakan ajaran-ajaran Katolik itu sendiri.
Berikutnya saat kami harus memasuki kelas-kelas pilihan yang telah kami tentukan pada hari sebelumnya. Ada 4 pilihan kelas yang ada, yaitu: kelas praise & worship, kelas team building, kelas pewarta, dan kelas leadership.
Hari III
Hari ini dimulai sama seperti hari kedua yakni dimulai dengan misa kudus dan dilanjutkan dengan 2 ceramah umum yang dibawakan oleh Bpk Arwianto dan Rm Adrian. Setelah itu lalu dilanjutkan dengan kelas-kelas kecil pada siang dan sore hari. Untuk malamnya kami mengadakan KRK bersama yang dipimpin oleh tim dari Jakarta. KRK ini sungguh hal yang paling berkesan selama saya mengikuti konvenas selama beberapa hari ini. Bagaimana tidak, setiap orang terlihat seperti kepenuhan Roh Kudus. Begitu semarak acara KRK ini sampai-sampai semua orang dalam ruangan ikut memuji, menari, berlompat bahkan berlari. Perasaan capek selama mengikuti konvenas yang super padat ini seakan tidak diperdulikan oleh para peserta, yang terus meminta agar KRK jangan diberhentikan walau jam sudah menunjukan tengah malam. Tapi akhirnya KRK malam itu harus selesai karena panitia dan peserta harus beristirahat untuk mempersiapkan konvenas pada hari terakhir besoknya.
Hari IV
Hari ini merupakan hari terakhir konvenas, hari dimana kita harus menyelesaikan semua pembekalan kita sehingga siap untuk kembali pada tiap-tiap keuskupan dimana kita melayani. Pada hari ini terdapat sesi final pada masing-masing kelas kecil. Untuk kelas pewarta para peserta diminta satu-persatu maju untuk latihan mewartakan didepan kelas. Setelah itu acara ini ditutup dengan misa penutup dan pengumuman kota tuan rumah konvenas berikutnya, yakni SURABAYA. Ya, Surabaya yang akan menjadi tuan rumah konvenas berikutnya pada tahun 2010 nanti. Akhirnya acara yang paling terakhir tiba, apalagi kalu bukan foto-foto yang luar biasa sulit diatur, tukar alamat email dan nomor handphone… serta ditambah ucapan: sampai jumpa di konvenas berikutnya di Surabaya
Penulis: Alex, Teknik Sipil 2004
Subscribe to:
Posts (Atom)