(Luk. 15:20b-24 ; 28b,31-32)
(Oleh : Sr. Maria Petra, P.Karm)
A. PENGANTAR
Kisah ini sangat dramatis : "…ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihat dia ( si anak bungsu), lalu tergeraklah hati-Nya oleh belaskasihan. Ayahnya itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia"…."lalu ayahnya keluar dan berbicara dengan dia ( si sulung), dan memintanya untuk masuk..."
Seorang bapa yang menyambut anaknya yang pulang kembali ke rumah, membungkuk, merangkulnya dalam pelukannya yang memberi kehangatan, mendekapnya, membawanya kembali ke dalam kerahiman yang tiada batasnya. Inilah rahasia cinta Allah.
Dengan bebas Ia telah memilih untuk menggantungkan diri kepada ciptaan-Nya yang telah dianugerahinya dengan kebebasan. Pilihan ini menjadi kepedihan, ketika ciptaan (mereka), pergi meninggalkannya. Pilihan ini juga membawa kegembiraan ketika mereka pulang. Akan tetapi kegembiraan ini tidak sempurna sebelum semua (si anak sulung) yang telah menerima kehidupan dari-Nya kembali masuk ke dalam rumah dan berkumpul mengelilingi meja perjamuan yang telah dipersiapkan untuk mereka.
B. TANGGAPAN SANG BAPA
1. Bagi Allah Tak ada kata "lebih" atau "kurang"
Tanggapan sang Bapa yang bebas dan spontan karena kembalinya si anak bungsu sama sekali tidak membandingkannya dengan si anak sulung. Sebaliknya dia sangat menginginkan si anak sulung menjadi bagian dari kegembiraan-Nya. Demikian juga Allah Bapa kita tidak pernah membanding-bandingkan kita. Allah menerima, melihat, dan mencintai dengan cinta Ilahi, cinta yang memberi tempat istimewa kepada setiap manusia, pria dan wanita.
Inilah rahasia panggilan Bapa kepada kita, yaitu supaya kita juga mampu memandang dunia dengan mata kasih Allah; yaitu pandangan seorang Bapa yang memberi, mengampuni tanpa pernah memperhitungkan baik-buruk tindakan sesama. Untuk itu kita perlu memiliki satu mata, yaitu "mata hati Allah'.
2. Hati Sang Bapa
Hati Sang Bapa selalu terarah kepada kedua anaknya; Ia mencintai keduanya dan berharap dapat menyaksikan keduanya mengelilingi meja perjamuan sebagai saudara. Ia menginginkan keduanya merasakan bahwa mereka milik keluarga yang sama dan anak-anak dari Bapa yang sama, meskipun keduanya berbeda satu sama lain.
Dalam kisah Lukas ini kita melihat dengan jelas hati seorang Bapa, yang mengasihi dengan "cinta pertama" cinta tanpa batas dan syarat. Inilah yang menjadi rahasia iman kita. Allah yang mengasihi kita sebelum seorang manusia dapat menunjukkan kasih kepada kita. Dia menginginkan kita menjadi anak-anak-Nya yang terkasih dan mengajari kita untuk mencintai sebagaimana Dia mencintai kita.
Karena kasih Allah yang tiada batas, Dia telah melukiskan kita di telapak tangan-Nya (Yes. 49:16). Allah mencintai kita dengan cinta pertama, dan untuk selama-lamanya. Seperti yang telah diteladankan oleh Yesus Putera-Nya. Yesus datang untuk menyatakan cinta Bapa yang tak terbatas, serta menunjukkan jalan untuk membiarkan cinta itu membimbing setiap bagian harian hidup kita.
3. Kita dipanggil untuk menjadi sempurna, sama seperti Bapa
Dalam Injil Lukas dikatakan : "...lekaslah bawa kemari....." Sang Bapa mendahului permohonan anaknya dengan pengampunan yang spontan dan menjadikan permohonan itu tidak mempunyai arti dibandingkan dengan kegembiraan karena kepulangan anaknya. Lebih dari itu sang Bapa ingin memberikan kehidupan kepada anaknya; memberikan yang terbaik, jubah kehormatan, cincin, dan sepatu. Sang anak bukan lagi upahan (budak), melainkan sebagai anak yang terkasih. Dengan demikian Bapa memulihkan kembali keputraannya sebagai ahli waris.
Kini kita pun sebagai anak-anak Allah; ahli waris kerajaan-Nya, telah didandani dengan tanda kemerdekaan sebagai anak-anak Allah. Dia tidak ingin seorang pun dari kita menjadi anak upahan atau budak. Dia ingin kita mengenakan jubah kehormatan, cincin ahli waris, dan sepatu kemuliaan. Inilah kepenuhan tahun rahmat Tuhan bagi kita. Allah yang menderita karena cinta-Nya yang besar kepada anak-anak-Nya, Allah yang begitu kaya akan kebaikan dan belaskasih ingin menyatakan kekayaan kemuliaan-Nya kepada kita semua.
Kita dipanggil untuk menyatakan bahwa kita adalah anak dari seorang bapa yang murah hati dan belaskasih. Kita adalah ahli waris, dan sebagai ahli waris kita harus melangkah masuk ke tempat Bapa dan menawarkan kepada sesama kemurahan hati dan belaskasih, sama seperti yang telah ditunjukkan Bapa kepada kita.
Menjadi serupa dengan sang Bapa surgawi, membawa konsekuensi dalam hidup harian kita; bahwa kita harus meninggalkan hukum dunia yang penuh persaingan; mencintai sama seperti Allah mencintai. Inilah inti pesan Injil, bahwa manusia dipanggil untuk saling mencintai, sama seperti yang dilakukan Allah. Kita semua dipanggil untuk saling mencintai satu sama lain dengan cinta yang tanpa pamrih. Kemurahan hati itu juga adalah kemurahan hati yang mutlak, sehingga jejak-jejak persaingan tidak lagi ditemukan. Ini dibutuhkan suatu sikap yang radikal, sehingga musuhpun harus dicintai. Dengan demikian kita tidak hanya diterima oleh Allah, tetapi juga harus menerima seperti Allah. Kita harus menjadi seperti Bapa surgawi dan melihat dunia dengan sudut pandang-Nya.
Ada tiga jalan yang dapat membawa kita menjadi seperti Bapa yang murah hati dan belaskasih :
a. Jalan dukacita
Dukacita merupakan jalan untuk kembali dalam kemurahan hati dan belaskasih. Dukacita memaksa kita untuk membiarkan dosa-dosa dunia dan dosa masing-masing menembus hati dan membuat kita mengalirkan air mata. Tak ada belaskasih tanpa cucuran air mata. Jika tidak ada air mata yang mengalir dari mata kita setidak-tidaknya ada air mata yang mengalir dari hati.
Saat kita membayangkan dosa dunia (anak-anak Allah), nafsu neraka, ketamakan, kekejaman, kemarahan, rasa dendam, dan melihat hal itu dengan mata hati Allah, kita hanya menangis dengan duka cita. Itulah sebabnya dukacita di sini merupakan ungkapan doa kita, ratapan penyesalan yang membawa air mata karena melihat begitu banyak dosa dunia.
2. Jalan Pengampunan
Mengampuni tiada henti sama seperti Bapa. Sebab pengampunan Allah itu tidak bersyarat, pengampunan yang muncul dari hati yang tidak pernah menuntut apa pun untuk dirinya. Sebuah hati yang sungguh-sungguh bebas dari pencarian diri. Inilah pengampunan Ilahi yang perlu kita laksanakan dalam kehidupan sehari-hari, inilah pengampunan yang memanggil kita untuk melepaskan semua pandangan yang keliru selama ini. Pengampunan yang menuntut kita untuk mengatasi hati yang terluka karena ketidakadilan, hati yang ingin menguasai, dan menuntut beberapa syarat dari orang yang kita ampuni.
3. Jalan Kemurahan Hati
Sang Bapa tidak hanya memberikan kepada anaknya yang menuntut bagian warisan dan pergi ke negeri yan jauh, tetapi ia juga melimpahinya dengan banyak anugerah ketika anak-anaknya pulang. Dan kepada si anak sulung ia berkata: "segala kepunyaan-Ku adalah kepunyaanmu." Tidak ada yang disimpan Bapa untuk dirinya. Dia melimpahi segalanya untuk kedua anaknya. Bagi sang Bapa kedua anaknya adalah segala-galanya. Ia ingin mencurahkan seluruh hidupnya.
Kepada si bungsu dianugerahkan cincin, jubah, sepatu serta disambut dengan pesta yang mewah. Sementara si sulung didesak untuk menerima tempatnya yang istimewa dalam hati Bapa, dan diajak bergabung dengan adiknya mengelilingi meja perjamuan.
Inilah gambaran dari Allah Bapa kita, dengan kebaikan, cinta, pengampuan, perhatian, kegembiraan, dan belaskasih tanpa batas. Gambaran ini jelas sekali dalam diri Putera-Nya Yesus yang menghadirkan kemurahan hati Allah. "Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang menyerahkan nyawa-Nya bagi sahabat-sahabatnya..." (Yoh. 15:13)
Inilah pemberian diri Bapa dalam Yesus Putera-Nya. Pemberian diri ini merupakan disiplin, karena hal ini tidak muncul begitu saja secara spontan. Sebagai anak yang dikuasai oleh kegelapan, yang memerintah melalui ketakutan, kepentingan diri dan ketamakan dan kekuasaan. Motivasi kita yang terkuat adalah mempertahankan dan melindungi diri. Akan tetapi sebagai anak-anak terang yang mengetahui bahwa cinta yang sempurna menyingkirkan segala ketakutan memungkinkan kita memberikan segala yang kita miliki kepada sesama, setiap kali kita melangkah ke arah sikap murah hati, kita tahu bahwa kita beralih dari ketakutan kepada cinta.
Maka dukacita, pengampunan, dan kemurahan hati adalah tiga jalan yang memungkinkan gambaran Bapa tumbuh dalam diri kita. Tiga jalan itu adalah tiga sisi dari panggilan Bapa untuk tinggal di rumah; untuk berani percaya bahwa kegembiraan dan kepenuhan sejati hanya dapat diperoleh dengan menyambut mereka yang sakit, menderita, terluka dalam perjalanan hidup mereka dengan mencintai mereka dengan cinta yang sama sekali tidak mengharap imbalan. >
Sharing :
* Bapa yang penuh kasih tak mengingat lagi perbuatan dosa anaknya di masa lampau. Bagaimana dengan Anda sendiri, masihkah Anda selalu mengungkit kesalahan sesama terlebih jika sesama itu menyakiti Anda? Sudahkah Anda memberikan kasih dan pengampunan yang tulus kepada mereka? Sharingkanlah pengalaman Anda tersebut
* Sebaliknya apa yang akan Anda lakukan jika Anda berada dalam posisi si anak bungsu yang telah berbuat kesalahan terhadap bapanya? Beranikah Anda datang dan menyerahkan diri kepada bapa? Bagaimana Anda percaya bahwa bapa tidak akan menolak Anda? Sharingkanlah pendapat Anda dalam sel
diambil dari http://www.holytrinitycarmel.com/f/r.php?d=318
No comments:
Post a Comment